TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG DI BLOG "DharmaVirya.Blogspot.com", "Selalu Semangat, Belajar, dan Menjalankan Dhamma", Semoga Blog ini bermanfaat untuk orang banyak,.... JANGAN BOSAN-BOSAN YA,.. DI TUNGGU KEDATANGANNYA KEMBALI :)

DharmaVirya To Android

Untuk memudahkan Sahabat membaca artikel-artikel dan update selalu dari blog DharmaVirya.
kini telah hadir digengamanmu, sebuah aplikasi DharmaVirya diandroid,. 
Sahabat bisa langsung Download GRATISSSSS 

CLIK DOWNLOAD
Tampilkan postingan dengan label Penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2013

Mengatasi Karma Buruk




Bagaimana kita mengatasi kamma buruk masa lampau kita? Untuk mengatasi kamma buruk masa lampau, Sang Buddha berkata bahwa kita harus melakukan banyak kamma baik sekarang ini. Sang Buddha memberikan perumpamaan yang indah dari garam dan air (A.N. 3.99). Pada masa Sang Buddha, tidak terdapat garam halus seperti yang kita punyai, tetapi mereka mempunyai bongkahan garam. Jadi Sang Buddha berkata, andaikan seseorang mengambil sebongkah garam dan meletakkannya dalam secangkir air, mengaduk, dan meminumnya. Air tersebut tentu saja terasa asin. Tetapi, jika orang tersebut mengambil jumlah bongkahan yang sama, dan memasukkannya ke dalam air sungai, dan mengaduk air di sungai, dan meminumnya, asinnya tidak terasa karena jumlah air yang sangat banyak di sungai.

Sang Buddha berkata bahwa air diumpamakan sebagai kamma baik dan garam diumpamakan sebagai kamma buruk. Jadi kamma baik yang banyak akan mengurangi akibat daripada kamma buruk.. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk melakukan banyak kebajikan untuk mengatasi kamma buruk masa lampau kita. Apa yang telah berlalu, tak dapat kita rubah; kita hanya dapat mewaspadai saat ini. Mewaspadai saat ini, kita harus melakukan banyak kebajikan (termasuk menghindari kejahatan, yakni menjalankan sila).

Semua kamma yang kita lakukan memiliki potensi untuk berbuah. Tetapi, tidak setiap kamma akan matang. Sang Buddha berkata apabila setiap kamma harus matang, maka kita tidak dapat keluar dari samsara (lingkaran kelahiran kembali). Ini dikarenakan timbunan kamma kita sangat besar dari banyak kehidupan lampau kita.

Contoh yang baik adalah Angulimala, bandit yang membunuh ratusan orang. Dia tinggal di hutan, dan dia juga sangat kuat, bertenaga dan cepat sehingga dia membunuh banyak orang yang berjalan melewati hutan. Dia mempunyai kebiasaan memotong jempol dan jari dari orang-orang yang dia bunuh, dan membuatnya menjadi kalungan bunga yang dipakai di lehernya, itulah sebabnya dia dipanggil Angulimala, yang berarti ‘pemakai kalungan jari’. Sang Buddha mengetahui bahwa raja akan diminta oleh orang-orang untuk mempersiapkan tentara untuk membunuh Angulimala karena mereka takut melewati bukit tersebut sehubungan dengan banyaknya orang yang terbunuh di sana. Dengan niat menyelamatkan Angulimala, Sang Buddha berjalan keatas bukit sendirian untuk mencarinya.

Bandit Angulimala melihat Sang Buddha dan berpikir akan mudah membunuhnya. Jadi dia mengikuti dari belakang dan lari mengejar dengan pisau dan senjata. Dia ingin membunuh Sang Buddha, tetapi walaupun dia berlari sangat cepat, dia akhirnya tahu bahwa dia tak dapat mendekati Sang Buddha karena Sang Buddha menggunakan kekuatan supranormal. Jadi Angulimala berhenti dan meminta Sang Buddha untuk berhenti. Sang Buddha berbalik dan melihat Angulimala, dan berkata kepadanya, “ Saya telah berhenti, Angulimala; berhenti jugalah kamu.” Angulimala berpikir sendiri, “Mengapa orang ini berkata saya belum berhenti dan dia telah berhenti?” dan dia meminta Sang Buddha untuk menjelaskan.

Sang Buddha berkata kepadanya, “Saya telah berhenti melukai semua makhluk, tapi kamu masih belum.” Sang Buddha kemudian mengajari dia Dhamma dan setelah mendengarkannya, Angulimala sepenuhnya berubah. Angulimala melempar senjatanya dan meminta Sang Buddha untuk mengizinkannya menjadi bhikkhu. Jadi Sang Buddha berjalan pulang ke Vihara, dan Angulimala mengikuti Beliau, dan menjadi bhikkhu.

Raja yang diminta untuk membunuh Angulimala merasa takut walaupun dia bersama dengan tentaranya karena reputasi Angulimala sebagai bandit yang keji. Jadi raja pergi melihat Sang Buddha di Vihara hutan, mungkin dengan harapan mendapatkan berkah dari Sang Buddha. Sang Buddha melihat raja lengkap dengan baju perangnya dan dikelilingi oleh tentaranya, dan Sang Buddha bertanya kemana raja akan pergi. Raja berkata bahwa dia diminta oleh orang-orang untuk menangkap dan membunuh Angulimala, dan dia sedang dalam perjalanan melakukannya.

Sang Buddha bertanya pada raja seandainya dia melihat Angulimala sebagai seorang bhikkhu saat ini, terkendali dan baik, bagaimana dia akan berbuat? Raja berkata dia akan memberikan penghormatan pada dirinya dan melindungi dan mendukung dia seperti bhikkhu yang lain. Sang Buddha kemudian menunjuk pada Angulimala dan berkata, “Raja agung, itulah Angulimala.” Ketika raja berbalik dan melihat Angulimala, rambutnya berdiri dan dia menjadi ketakutan. Sang Buddha menenangkan raja dan berkata, “Jangan takut, raja agung, jangan takut. Tidak ada apapun dari dia yang membuatmu takut.” Raja sulit untuk percaya, tetapi dia setuju karena Sang Buddha yang berkata demikian. Oleh karenanya, raja memberikan penghormatan dan mendukung Angulimala.

Kemudian Angulimala berusaha dengan sangat keras dan menjadi seorang Arahat. Coba pikirkan hal itu! Dia tidak harus dilahirkan kembali di alam neraka untuk ratusan ribu tahun untuk membayar hutang kammanya! Jasa kebajikan dari pelatihan kehidupan suci dan mencapai tingkat kesucian sangat besar sampai-sampai dapat membebaskan kita dari kelahiran kembali di alam yang menderita. Jadi kita bisa melihat di antara ketiga landasan tindakan bajik, perkembangan batin (bhavana) melampaui kemoralan (sila) dan kedermawanan (dana).

Dikutip dari buku "Hanya Kitalah Yang Dapat Menolong Diri Kita Sendiri" 1997-1999
==============================================================
Download E-Book Hanya Kitalah Yang Dapat Menolong Diri Kita Sendir - [[clik download]]

Read more »

Teman Yang Sesat

Salah satu sebab dari tidak tercapainya Dhamma Mulia adalah karena bergaul atau berhubungan dengan teman yang salah/sesat (Pāpamitta). Bahkan, walaupun seseorang telah memenuhi kesempurnaan dalam kebaikan (Kusala Pārami) dan sekarang dia layak untuk mencapai Sang Jalan (Magga), Buah (Phala) Kesucian, dan Nibbāna, jika dia bergaul dengan teman yang salah, dia tidak akan merealisasi Dhamma Mulia di kehidupan ini juga.
Saya yakin teman-teman se-Dhamma semuanya telah sering mendengar tentang Raja Ajātasattu. Nama itu terdiri dari 2 kata, Ajāta dan Sattu. Ajāta artinya ’bahkan sebelum terlahir’ dan Sattu artinya ’musuh.’ Bahkan sebelum dia terlahir, ketika masih di dalam kandungan ibunya, dia mendambakan darah dari
lengan ayahnya.
Ketika Raja berkonsultasi dengan para penasihat kerajaan, mereka meramalkan bahwa Ajātasattu akan menjadi seorang Pangeran yang akan membunuh ayahnya. Setelah tumbuh dewasa, Ajātasattu bertemu dengan Devadatta yang telah mendapatkan banyak kekuatan supra natural dan menasihatinya untuk membunuh ayahnya, Raja Bimbisara.

Dia membunuh ayahnya dengan keji, mengiris-iris telapak kaki ayahnya dengan pisau, menaburi garam, dan memanggangnya di atas api. Dengan membunuh ayahnya, dia melakukan salah satu dari 5 perbuatan paling buruk (Ānantariya Kamma: membunuh Ayah, Ibu, Arahat, melukai Sang Buddha, dan memecah belah Sangha). Ajātasattu tidak dapat merealisasi Dhamma Mulia karena telah melakukan perbuatan paling buruk tersebut. Sebenarnya, Pangeran Ajātasattu adalah seorang yang dapat menjadi Sotāpanna dan menutup pintu
empat alam rendah (Apāya) pada akhir ceramah Sāmana Phala Sutta yang dibabarkan oleh Sang Buddha.
Akibat bergaul dengan orang yang salah (Pāpamitta) seperti Devadatta, Pangeran Ajātasattu bukan hanya kehilangan kesempatan untuk merealisasi Dhamma Mulia, tetapi juga dia terlahir di salah satu alam neraka (Lohakumbhi). Dia masih menderita di alam neraka itu sekarang. Jadi bergaul dengan orang yang salah itu sangat mengerikan. Seseorang, selain tidak dapat merealisasi Dhamma Mulia, juga akan menderita di neraka.
Sekarang tidak ada teman yang salah (Pāpamitta) yang mempunyai kekuatan super normal, tetapi ada teman yang sesat yang mempunyai pandangan salah (Miccha Pāpamitta). Orang-orang yang mempunyai ideologi atau keyakinan yang salah dapat dikatakan sebagai Miccha Pāpamitta. Jika seseorang tertarik pada ideologi yang salah (Miccha Vāda) dan berteman dengan orang yang mempunyai ideologi demikian; dia tidak akan dapat merealisasi Dhamma Mulia walaupun dia telah mempunyai kesempurnaan kebaikan (Kusala Pārami) yang telah dikumpulkannya pada kehidupan lalunya yang tidak terhitung.
Gunakanlah kesempatan kehidupan yang mulia ini, terlahir sebagai manusia, dengan berlatih meditasi sebaik-baiknya. Mereka yang belum berlatih meditasi dengan baik, keyakinannya belum mantap. Mereka dapat dengan mudah berpindah keyakinannya akibat berteman dengan Pāpamitta. Hal itu sangatlah menakutkan. Janganlah hal yang dialami oleh Pangeran Ajātasattu terjadi pada teman-teman se-Dhamma. Kisah Pangeran Ajātasattu adalah salah satu kisah di mana akibat bergaul atau berhubungan dengan teman yang salah/sesat (Pāpamitta), Dhamma Mulia tidak dapat tercapai.

Oleh Andi Kusnadi Dikutip dari "Sharpening The Controlling Faculties" by Sayadaw U Kundala, hal 326-328.

Read more »

Empat Jenis Harta


Kita berada di sini, karena hasil karma baik ( kusala kamma) dari kehidupan sebelumnya. Didukung oleh karma baik dari kehidupan lampau, perbuatan baik yang anda lakukan saat ini hasilnya akan menjadi lebih baik/efektif. Ada 4 jenis kekayaan yang berhubungan dengan hasil perbuatan baik yang telah kita lakukan.
 
1. Harta Tak Bergerak 

Harta ini berupa barang-barang yang tidak bergerak seperti ladang, kebun, dan rumah. Harta jenis ini menunjang anda dalam menjalani kehidupan ini, tanpa harta jenis ini anda akan menderita.
 
2. Harta Bergerak

Harta ini berupa barang-barang bergerak (yang dapat dibawa-bawa atau pindahkan). Contoh harta jenis ini adalah perhiasan (berlian, batu mirah), mobil, dan uang. Anda perlu mengumpulkan harta jenis ini untuk dapat melangsungkan kehidupan ini dengan baik. Bila tidak, anda akan mengalami penderitaan.
 
3. Harta yang Menjadi Bagian dari Diri Anda

Harta ini akan terus ikut dengan anda ke manapun anda pergi. Bila anda mempunyai harta jenis ini, anda dapat hidup dengan bahagia. Contoh dari harta jenis ini dapat berupa pengetahuan maupun suatu keahlian, baik itu dari jalur pendidikan (sekolah/universitas) maupun dari pengalaman kerja. Harta ini bagaikan kotak perabotan yang dapat di bawa kemana-mana. Anda dapat mengumpulkannya sejak muda, dapat menggunakannya setiap saat dan anda akan merasa bahagia dengan memiliki harta jenis ini. Bila anda tidak mempunyai harta jenis ini (menjadi orang yang bodoh), anda akan menderita khususnya di hari tua anda.

4. Harta yang Terbawa dalam Kehidupan Ini dan Kehidupan Berikutnya

Harta ini didapat dari pelaksanaan kedermawanan (dana), moralitas (sīla), dan meditasi (bhāvanā). 

Perbuatan kedermawan, khususnya pada sangha, seperti berdana 4 kebutuhan pokok dari seorang bhikkhu (makanan, jubah, tempat tinggal, dan obat-obatan). Hasil dari perbuatan ini akan berguna bagi kehidupan saat ini dan juga terbawa ke kehidupan berikutnya. 

Mematuhi moralitas, dengan melaksanakan moralitas, maka akan membuat orang yang hidup dilingkungan yang sama akan merasa nyaman. Hal ini akan membawa kehidupan yang bahagia. Bukan hanya bahagia di kehidupan ini, tetapi juga akan membawa pada kelahiran di alam bahagia di kehidupan-kehidupan berikutnya. Meditasi, seperti yang anda lakukan (ber-vipassanā), adalah perbuatan yang menghasilkan hasil tertinggi. Hasilnya (kebijaksanaan) tidak akan habis di kehidupan ini, tetapi akan terus terbawa dalam menjalani lingkaran kehidupan ini (samsāra).  

Seorang yang melakukan tiga perbuatan ini, kedermawanan (dana), moralitas (sīla), dan meditasi (bhāvanā), telah melakukan hal yang sangat berharga dan mulia. Oleh karena itu, dia hanya akan terlahir serendahnya dialam manusia. Bukan hanya dapat membawa terlahir di alam bahagia dan mulia, tetapi juga akan mengkondisikan pencapaian nibbāna secara pasti. Oleh karena itu, perbuatan ini adalah perbuatan yang sangat berharga dan mulia.

Tiga jenis harta yang pertama, tidak dapat anda bawa saat anda meninggal dunia. Harta yang keempat bukan hanya bermanfaat pada kehidupan ini, tapi juga akan menemani anda semua dalam menjalani lingkaran kehidupan (samsāra).
 
Dihimbau untuk kita semua agar mendapatkan harta jenis keempat ini dengan melakukan kedermawanan (dana), moralitas (sīla), dan meditasi (bhāvanā) guna memperpanjang keberadaan ajaran Sang Buddha (Buddha sāsanā).

Oleh : Andy Kusnadi. Dikutip dari "Ceramah Dhamma" by Sayadaw U Sasana,Retret tgl 240509, Bacom, INA.

Read more »

Minggu, 26 Mei 2013

Tiada Orang Yang Tidak di Cela

Sebuah cerita dari jaman kehidupan Buddha gotama, yang dikutip dalam buku "Dharma Ajaran Mulia Sang Buddha"

=============

Atula, seorang umat berkeluarga, bersama dengan teman-temannya pergi ke vihara untuk mendengar uraian dharma. Mereka menemui Bhikkhu Revata, memberi hormat dan duduk didekatnya mengharapkan Bhikkhu tersebut memberikan uraian dharma. Bhikku Revata adalah seorang Bhikkhu pemeditasi yang hidup menyendiri, sehingga tidak mengatakan sesuatu kepada mereka.

Merasa kecewa, mereka bangun dan datang kepada Bhikkhu Sariputta yang terkenai pandai dalam menerangkan dharma. Bhikkhu Sariputta dengan gembira, menyampaikan uraian yang panjang dan terinci tentang ajaran dharma. Namun hal tersebut tidak memuaskan Atula dan teman-temannya, karena mereka merasa uraian itu terlalu panjang dan menjemukan. Kemudian mereka datang kepada Bhikkhu Ananda, menceritakan alasan kedatangan mereka, dan bagaimana mereka tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan dari bhikkhu Revata dan bhikkhu Sariputta. Maka bhikkhu Ananda berusaha memenuhi keinginan mereka dengan memberikan uraian singkat dalam bahasa yang sederhana. Tetapi mereka merasa tidak puas, sehingga akhirnya mereka dtang untuk menyampaikan ketidak puasan mereka kepada Sang Buddha.

Kepada mereka Sang Buddha bersabda :

"Sepanjang sejarah telah telah menjadi kebiasaan orang untuk mencela orang lain. Orang yang tidak mengatakan sesuatu dicela, seperti juga orang yang terlalu berbicara banyak atau terlalu sedikit. Setiap orang akan dicela, ataupun dipuji. Aku sendiripun yang duduk dan berbicara dalam pertemuan, dicela oleh sebagain orang dan dipuji oleh sebagaian lainnya. Pujian dan celaan yang disampaikan secara dungu tidak perlu dipedulikan. Adalahpujian dan celaan yang berkenan dengan kebenaran seseorang yang perlu diperhatikan"


Read more »

Senin, 17 Desember 2012

Doa, Bisakah Terkabul?

Hidup ini tidak memuaskan. Ada saja yang kita rasa masih kurang kita miliki; harta, rezeki, berkah, sandang-pangan, pekerjaan, kesehatan, keamanan, keturunan, keselamatan, kebahagiaan, dll. Sesungguhnya semua itu bisa kita dapatkan dengan melakukan suatu usaha, dengan membuat sebabnya, karena manusia memang memiliki potensi untuk itu. Manusia bukanlah makhluk lemah dan ringkih, sehingga untuk memenuhi segala kebutuhannya harus mengharapkan belas kasihan makhluk lain. Menurut agama Buddha, manusia bukanlah wayang golek, yang segala sesuatunya diatur dan digerakkan oleh Pak Dalang/Sutradara. Tak ada makhluk lain yang ikut mengatur persoalan nasib seseorang. Namun karena terbelenggu oleh ketidaktahuan, manusia tidak dapat melihat dan merealisasikan potensi yang ada pada dirinya. Mereka lebih suka memohon dan meminta kepada para dewa, sebagai jalan pintas untuk memenuhi segala keinginannya, tanpa mau bersusah payah. Apalagi bila dalam memohon itu dipersembahkan sajian yang mewah dan mahal, maka dianggap akan lebih mempercepat terkabulnya permintaan mereka. Tindakan memohon dan meminta kemurahari hati para Dewa atau Maha Dewa untuk sesuatu inilah yang umum disebut Berdoa.

Umat Buddha memuja Sang Buddha, sama sekali tidak dengan harapan untuk memperoleh hadiah-hadiah duniawi maupun spiritual, seperti: rezeki, harta, pekerjaan, jodoh, keturunan, keselamatan, berkah, diampuni dosanya, sorga, atau pamrih apapun. Bukan juga karena perasaan takut akan hukuman. Kita menghormat dan sujud kepada Sang Buddha karena Beliaulah yang menemukan dan membabarkan Jalan Kebebasan. Karena itu, tidaklah berkelebihan bila Puja Bakti, sembahyang, dalam agama Buddha adalah betul- betul mumi dan tulus.

Dengan mempersembahkan bunga dan dupa di hadapan Buddha Rupang, kita bermaksud membuat diri kita merasa berhadapan langsung dengan Sang Buddha. Dengan cara demikian kita memperoleh inspirasi dari sifat pribadi Sang Buddha yang mulia, dan menghirup kasih sayang Beliau yang tak terbatas, serta merenungi dan mencoba untuk mengikuti contoh mulia Beliau. Pohon Bodhi juga merupakan lambang pencapaian penerangan sempuma. Obyek-obyek penghormatan luar ini tidak mutlak perlu, dan ini hanya berguna untuk memusatkan pikiran seseorang kala bermeditasi.

Seseorang yang sudah maju tidak memerlukan obyek-obyek luar tersebut Karena dengan mudah ia dapat memusatkan perhatiannya dan menggambarkan Sang Buddha dalam batinnya. Demi kebaikan kita sendiri dan karena rasa terima kasih, maka kita melakukan penghormatan luar seperti itu. Tapi yang diharapkan oleh Sang Buddha dari para pengikutnya bukanlah penghormatan seperti itu. Sang Buddha bersabda; bahwa cara penghormatan yang paling tepat adalah melaksanakan ajaran-Nya dengan baik.

Dalam agama Buddha tidak ada doa-doa permohonan, minta-minta keselamatan, berkah, rezeki, pengampunan, dan lain-lain; baik kepada Dewa, Brahma, Sang Buddha sendiri, ataupun Tuhan. Beliau tak pernah manjanjikan hadiah kepada mereka yang berdoa kepada-Nya. Sang Buddha tidak hanya menyatakan betapa sia-sianya doa-doa permohonan, tapi juga Beliau mencela perbudakan mental seperti itu.
Mengapa Sang Buddha tidak mengajarkan umatnya berdoa atau memohon atau meminta-minta kepada Tuhan, karena Tuhan -Yang Maha Esa- dalam agama Buddha bukanlah suatu pribadi atau makhluk hidup yang menjadi tempat menggantungkan hidup, berdoa, atau memohon. Tuhan dipandang sebagai Tujuan Akhir bagi semua makhluk. Dengan demikian, doa permohonan tidak tepat ditujukan kepada Tuhan dalam pengertian agama Buddha. Sang Buddha telah berhasil menempatkan Tuhan pada proporsi yang sebenamya, yaitu sebagai Dhamma Yang Tertinggi, Yang Tak Bersyarat. Demikian juga halnya dengan Sang Buddha, karena telah menyadari dan menyelami hakikat Tuhan yang sebenamya, maka Beliau tidak seharusnya dipaksa untuk mengurusi hat-hal duniawi. Umpamanya, dengan menjadikannya sebagai cukong yang senang berdagang kesejahteraan atau kebahagiaan; ataupun sebagai hakim yang dapat disuap dengan doa-doa, puji-pujian, maupun persembahan kurban. Sebagai Guru yang menganjurkan Ehipassiko, maka mengapa Sang Buddha tidak mengajarkan doa permohonan/minta-minta, dapat dikaji dari manfaat atau kegunaan doa yang demikian itu. Untuk mengkaji manfaatnya, kita dapat membuat suatu analogi yang sederhana.

Ada tiga orang petani, menanam jagung dengan faktor-faktor penunjang tanah, air, cuaca, perawatan, dl1- yang sama. Tapi:
  • Si A, berdoa siang malam, agar biji jagung yang ditanam tumbuh menjadi pohon mangga.
  • Si B, berdoa agar biji jagung itu tumbuh menjadi pohon jagung.
  • Si C, tidak berdoa, karena yakin “segala sesuatu itu akan tumbuh dan berbuah sesuai dengan benih yang ditanam”.

Adakah yang mampu mengabulkan doa/permohonan si A? Rasanya penjelasan lewat analogi tersebut sudah sangat gamblang. Doa hanya terkabul bila pas dan sesuai dengan benih / karma / perbuatan kita; yang sebetulnya tanpa didoakan/dimohonkan/diminta juga pasti akan terkabul. Untuk membuat keinginan kita terkabul, sebab yang tepat mesti kita miliki atau ciptakan. Berdoa, itu boleh dan bisa saja, seperti kita boleh/bisa menebar pupuk, menyiram dengan air, tapi jika tidak menebar benih, maka tak ada yang tumbuh. 

Doa permohonan menjadi sia-sia bila kita tidak memiliki simpanan karma balk, tidak memiliki penyebab terkabulnya doa permohonan kita.

Sang Buddha saat menjelaskan bagaimana hukum sebab-akibat bekerja dalam pikiran kita, menyatakan bahwa membunuh akan menyebabkan antara lain, berusia pendek. Menghindari pembunuhan, akan menyebabkan usia panjang dan bebas dari penyakit Bila kita gagal mengikuti nasihat yang paling mendasar ini, tetapi tetap berdoa agar berumur panjang dan memiliki kesehatan yang balk, kita telah salah tafsir. 

Sebaliknya bila di masa lalu seseorang telah menghindari pembunuhan, menyelamatkan nyawa seseorang atau makhluk lain, maka harapannya mungkin bisa terpenuhi. Dengan cara yang sama, Sang Buddha mengatakan bahwa kemurahan hati merupakan awal dari kekayaan. Jika kita murah hati pada kehidupan yang lalu, dan sekarang berharap agar kekayaan kita bertambah, maka keuangan kita bisa berkembang. Sebaliknya bila kita kikir saat ini, kita sedang menciptakan sebab dari kemiskinan kita di masa mendatang!
Bila ada yang merasa doanya terkabul, maka terkabulnya doa itu sesungguhnya karena ia memiliki sebabnya. 

Ia mempunyai tabungan karma baik di kehidupannya yang dulu, atau karena usahanya pada kehidupannya sekarang ini. Untuk itu beberapa agama cenderung merangkaikan kata doa menjadi “Berdoa dan bekerja”. Kita tentu menyetujui bahwa yang menjadi penentu terpenuhinya keinginan kita adalah kata “bekerja”. Sebab, bekerja tanpa berdoa, keinginan kita masih bisa tercapai. Tapi kalau berdoa saja tanpa bekerja, hasilnya tidak pasti. Apakah semua ini berarti bahwa doa permohonan adalah satu hal yang sama sekali tidak berguna? Walaupun jelas doa itu sendiri tak bisa mengabulkan keinginan kita, tentu tak bisa dikatakan ‘mutlak sia-sia’. Karena bagaimanapun juga, berdoa jauh lebih baik daripada melamun dengan pikiran kosong, apalagi berbohong, mencuri, mabuk-mabukan, atau perbuatan buruk lainnya. Alih-alih mengajarkan doa-doa permohonan yang sia-sia, Sang Buddha mengajarkan Meditasi. Meditasi bukanlah berdiam diri melamun atau mengosongkan pikiran. Meditasi adalah perjuangan pikiran, latihan pengendalian pikiran; mengesampingkan segala pikiran dan nafsu keinginan yang rendah dan egois, mengendapkan kekotoran batin sehingga pikiran menjadi tenang. Makin maju tingkat meditasi kita, makin tenang, jemih, dan terang pikiran kita. Dengan pikiran yang jernih, tentu kita menjadi lebih waspada, bijaksana, dan lebih bisa membedakan antara yang semu dengan yang sejati. Pada tahap lebih lanjut, ini akan mengubah cara berpikir kita, mengubah pandangan dan tabiat kita menjadi lebih baik. Cara berpikir dan tabiat yang baik tentu membuat tindakan kita pun menjadi baik. Otomatis kelak kita akan memetik kebahagiaan, walaupun kita tidak berdoa, memohon, atau meminta. Meditasi merupakan cara sembahyang yang paling mudah dan bersih, karena tidak mewajibkan seseorang untuk mengucapkan apa-apa yang tidak ia mengerti. Tidak memperbesar keinginan atau keegoisan dengan permohonan atau permintaan untuk kepentingan/keuntungan diri sendiri.

Apakah berarti Dewa tidak bisa menolong manusia?
Jangankan Dewa, manusia pun bisa menolong, tetapi bantuan atau pertolongan itu tidak terlepas dari karma kita sendiri, baik pada kehidupan yang lampau maupun yang sekarang. Dewa yang kita mohoni, hanya mampu menyediakan situasi agar karma baik kita bisa tumbuh dan masak.

Bagaimana Dewa bisa menolong? Apabila moral dan batin kita bersih, otomatis para Dewa suka berada di dekat kita. Tanpa diminta pun, mereka akan berusaha membantu kita. Memberi firasat, menghalangi makhluk jahat atau ‘black-magic’ yang ingin mengganggu. Tapi kalau memang karma buruk kita yang lampau telah masak dan situasi serta kondisinya mendukung, maka siapa pun tak sanggup menolong lagi.

Dalam arti sejati:
“Diri sendiri sesungguhnya pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah seseorang dapat melatih dirinya dengan baik, maka ia akan memperoleh suatu perlindungan yang sukar diperoleh”. Walau tak ada larangan untuk meminta pertolongan kepada para Dewa, umat Buddha tidak seharusnya menggantungkan hidupnya kepada para Dewa. Kemandirian seharusnya menjadi sikap yang utama. Sebab manusia mempunyai potensi tinggi untuk memenuhi kebutuhannya. Hanya karena ketidaktahuannya atau kebodohannya yang sangat dalam itulah, maka manusia gagal untuk menyadari kemampuan tersebut.

Perlu diketahui bahwa pertolongan yang dapat diberikan oleh para Dewa maupun makhluk lain hanyalah terbatas pada pertolongan yang bersifat duniawi, tidak kekal, bisa musnah, bisa hilang; sehingga akhimya bisa menimbulkan penyesalan dan kedukaan. Sedangkan kesucian, kebahagiaan sejati, dan kesempurnaan, hanya dapat dicapai melalui usaha dan perjuangan sendiri. Sekarang mungkin timbul pertanyaan, “Kalau memang agama Buddha tidak mengenal ajaran tentang doa, permohonan, atau minta-minta, lalu apa yang dilakukan atau diucapkan oleh umat Buddha saat sembahyang?”

Sang Buddha mengajarkan agar kita memperbaiki yang ada di dalam diri kita sendiri, mengikis Lobha, Dosa, dan Moha. Makin bersih batin kita, makin mampu kita menahan diri dari perbuatan salah; yang berarti makin sedikit buah-buah pahit yang bakal kita terima. Yang diucapkan waktu sembahyang adalah PARITTA atau SUTTA. Dengan mengucapkan paritta atau sutta, pikiran dan ucapan diarahkan untuk berpikir dan berucap yang balk. Itu berarti membuat karma baik lewat pikiran dan ucapan. Makna atau tujuan kita mengucapkan paritta adalah sebagai pengulangan terhadap Ajaran Sang Buddha, agar kita selalu ingat terhadap Dhamma Sang Buddha, selalu ingat kepada sila (kemoralan), kepada sifat-sifat luhur Buddha, Dhamma, dan Sangha. Dan pada akhimya ini memberi kita semangat, penguat tekad, pembangkit usaha untuk melaksanakan Dhamma, serta sebagai pengantar yang menenangkan untuk memulai meditasi.

Umat Buddha menyatakan berlindung kepada Tiratana – Buddha, Dhamma, dan Sangha. Hal ini jangan diartikan sebagai perlindungan yang pasif, karena “berlindung” di sini merupakan pernyataan tekad, janji kepada diri sendiri untuk mempelajari, mempraktikkan Buddha Dhamma sampai akhimya mencapai Tujuan. Jadi terlindung tidaknya, tergantung dari praktik Dhamma kita sendiri; sama sekali tidak terkandung pengertian agar Tiratana menyelamatkan kita, tanpa kita perlu mempraktikkan Dhamma itu sendiri.

Ada juga Paritta yang mirip doa, berisi harapan, memang. Tetapi jelas itu tidak bisa disebut doa, memohon, atau meminta, karena sebetulnya itu adalah PATTIDANA atau Pelimpahan Jasa. Terkabul atau tidaknya harapan itu tergantung pada karma masing-masing. Bukan tergantung pada belas kasihan suatu makhluk. Ada juga yang bermakna ADITTHANA, tekad, untuk mewujudkan harapan itu dengan jalan melaksanakan Dhamma.

Bila kita tak bisa membaca paritta, karena sebagai pemula, maka kita bisa mengucapkan: “Semoga semua makhluk berbahagia”. Kalimat itu diulang-ulang terus. Bila hal itu sering kita lakukan dan hayati, maka batin kita akan diliputi oleh rasa cinta kasih (metta). Bila kita hendak melakukan perbuatan/karma buruk yang merugikan makhluk lain, kita cepat menyadari. “Baru saja saya mendoakan agar semua makhluk berbahagia, mengapa sekarang saya ingin menyakiti orang/makhluk lain?” Karma buruk batal kita laksanakan, buah buruk pun tak bakal kita rasakan. “Sembahyang, Puja Bakti, dalam agama Buddha bukan untuk memaksakan keinginan kita, atau mengubah apa yang ada di luar diri kita, tapi untuk mengubah apa yang ada di dalam diri kita, mengikis kekotoran batin; Lobha, Dosa, dan Moha”.

Persembahan, boleh atau dilarang?
Masalahnya bukan boleh atau dilarang, tetapi bermanfaat tidaknya tindakan itu. Sang Buddha tidak pemah melarang umat awam; Sang Buddha hanya memberitahukan akibat, pahala, dan konsekuensi dari suatu tindakan. Kita sujud dan melakukan persembahan, bukanlah karena Sang Buddha memerlukan, meminta, merasa berhak, apalagi mengharuskan. Seseorang yang telah menyucikan pikirannya dan menikmati kebahagiaan yang datang dari kebijaksanaan dan Kebahagiaan Sejati, sama sekali tidak memerlukan apa-apa dari luar dirinya untuk dapat menjadi bahagia. Dan… Sang Buddha sebetulnya tidak memerlukan atau pun memperoleh apa-apa dari persembahan kita!

Apakah ini berarti persembahan kita sia-sia?
Yang mendapatkan manfaat dari persembahan kita sesungguhnya adalah diri kita sendiri. Kita yang belum meraih kesucian, tentu memiliki kemelekatan dan kekikiran. Selalu merasa kurang dan haus. Ini membuat pikiran. kita tidak tenang, mendorong kita untuk menghalalkan segala cara untuk mernperoleh yang kita inginkan. Untuk mengikis kemelekatan dan kekikiran itu, salah satu caranya adalah melaksanakan persembahan atau berdana. Memberi tanpa merasa kehilangan. Hal ini memberikan potensi positif dan mengembangkan pikiran kita, yang selanjutnya memperbaiki tindakan kita.

Bagaimana dengan persembahan hewan kurban?
Mempersembahkan hewan kurban juga baik dan bermanfaat. Tapi, disamping kebaikannya itu, karena ia juga telah sengaja menimbulkan suatu pembunuhan — yang termasuk karma buruk–, berarti persembahan hewan kurban manfaatnya menjadi berkurang, susut Apalagi bila setelah sembahyang, hewan kurban itu dimakan sendiri –tidak didanakan kepada orang lain–, maka manfaatnya menjadi semakin kecil.

Sang Buddha sebagai Guru para Dewa dan manusia, tidak terlalu mengagung-agungkan kehidupan para Dewa, tapi juga tidak terlalu merendahkan kehidupan binatang. Sang Buddha hanya menempatkan pada proporsi yang sebenarnya saja. Memberikan komentar tentang persembahan kurban, Sang Buddha menyatakan: “Barang siapa mencari kebahagiaan bagi dirinya sendiri dengan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, tidak akan memperoleh kebahagiaan setelah kematian “.

Bagaimana dengan “doa kaul”?
“Tuhan/Dewa, berilah kami rezeki/makanan/anak. Kalau doa kami dikabulkan, kami akan mempersembahkan ayam panggang 10 ekor”. Secara sadar atau tidak, doa itu bermakna; “Tuhan/Dewa, berilah kami rezeki/makanan/anak, kalau Tuhan/Dewa berikan, nanti saya beri ayam panggang. Tapi kalau Tuhan/Dewa tidak beri, saya juga tidak jadi memberi ayam panggang”. Bila Tuhan/Dewa yang kita sembah mampu memberi kita apapun yang kita minta, apakah kita tidak salah kaprah dengan menjanjikan sesuatu kepadanya? Ibarat kita menjanjikan uang sepuluh ribu rupiah kepada Om Liem, bila Om Liem mau mengabulkan permintaan kita…

Bagaimana “kaul” secara Buddhis?
Berdana, berbuat baik dulu, baru lalu mengharap, “Semoga dengan kebaikan yang saya lakukan ini, saya bisa mendapatkan kebahagiaan/rezeki/makanan/anak”. Jadi, tanam dulu benih jagung kita, baru kita bisa berharap memanen jagung. Kalau kita menanam -mendanakan- sebutir jagung, kelak kita akan mendapatkan hasil, pahalanya berbutir-butir. Kalau kita berharap panen dulu baru kelak menanam, berarti kita perlu banyak belajar dari pak tani.

Sumber : artikelbuddhist.com (Yan Saccakiriyaputta, Mutiara Dhamma XIV)

Read more »

Minggu, 16 Desember 2012

Masikah Anda Punya Waktu?

“Jadikanlah harimu produktif,
apakah sedikit ataukah banyak.
Karena setiap siang dan malam yang berlalu,
kehidupanmu berkurang sebanyak itu.”
(Theragatha. 451)
Pernahkah kita berpikir atau merenungkan tentang apa yang sudah kita lakukan dalam jangka waktu satu hari? Berapa banyak kebajikan yang sudah kita lakukan dalam satu hari dan berapa banyak pula kejahatan yang sudah kita kurangi? Banyak orang tenggelam dalam berbagai aktifitas dan melupakan hal yang sebenarnya sangat pokok. Mereka lupa bahwa perenungan semacam itu sangat baik untuk mengetahui sejauh mana usaha perbaikan dirinya. Sebagai manusia beragama, apalagi agama Buddha tentunya kita sudah sering diingatkan akan pentingnya perbaikan diri. Dengan adanya perbaikan diri maka cita-cita untuk menjadi orang baik akan menjadi sebuah kenyataan.

Kebanyakan orang tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Akibat dari tidak bisanya mengatur waktu menyebabkan aktifitas mereka menjadi berantakan. Terkadang ada hal-hal yang seharusnya dikerjakan tetapi tidak bisa dikerjakan karena tidak pandai mengatur waktu. Kalau sudah seperti itu kehidupan mereka menjadi semrawut dan kacau. Waktu terus berlalu dan kita tidak bisa mengembalikan waktu yang sudah berlalu. Setiap hari adalah awal kehidupan, setiap waktu adalah saat terbaik untuk mawas diri (Dharma Master Cheng Yen). Waktu sangatlah berharga, untuk itu kita harus pandai-pandai mengatur waktu, jika tidak kehidupan kita akan menjadi sia-sia.

Pernah suatu ketika ada orang berbicara kepada saya. Orang tersebut berkata, “ketika saya masih bujangan saya aktif dalam kegiatan keagamaan. Namun setelah saya berumah tangga saya sangat jarang melakukan aktifitas keagamaan. Saya tidak punya waktu” Sebagian besar orang merasa  tidak punya waktu, sebagian lagi beralasan terlalu banyak kesibukan. Apakah kehidupan kita harus sesibuk itu dan tidak bisa menyempatkan barang satu menit untuk hening sejenak? Persoalan yang sebenarnya bukan soal waktu tetapi kemauan dan tanggung jawab dari orang tersebut.

Sejenak kita menengok sejarah Sang Buddha. Sang Buddha adalah seorang guru yang pandai mengatur waktu. Waktu demi waktu dipergunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan pribadi Beliau, para bhikkhu,
upasaka-upasika dan juga kepentingan makhluk lain. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Jika kita melihat keseharian Sang Buddha, Beliau memberikan contoh dan menunjukan kepada kita semua bahwa waktu itu sangat berharga. Jangan sia-siakan kehidupan kita untuk hal yang tidak bermanfaat.

Pesan Sang Buddha menjelang Parinibbana patut menjadi perenungan bagi kita semua. Beliau mengajak kita semua untuk selalu berjuang dengan sungguh-sungguh karena kehidupan ini tidak kekal. Kita tidak bisa memastikan kehidupan kita akan bertahan berapa lama. Yang pasti kehidupan ini akan berujung pada kematian. Jika kita terus saja beralasan tidak punya waktu dan terlalu banyak kesibukan maka kita akan kehilangan banyak kesempatan untuk memperbaiki diri. Berusahalah untuk menghargai waktu karena waktu memang sangat berharga.

Apa yang harus dilakukan dengan waktu? Waktu kita sehari semalam 24 (dua puluh empat jam). Waktu yang cukup panjang. Selama 24 jam tentunya kita punya aktifitas. Dari aktifitas kerja, olah raga, jalan-jalan hingga kita punya waktu untuk tidur. Dari sekian banyak waktu bisakah kita menyisihkan untuk kepentingan batin kita? Kepentingan batin seringkali terlantar dan tersisih oleh aktifitas lainnya. Padahal batin ini sangat penting karena dengan batin yang terus diolah akan menyebabkan hidup kita menjadi lebih baik. Oleh karena itu, selama 24 jam itu kita harus bisa membagi waktu dengan baik.

Dengan menghargai waktu kita punya kesempatan untuk menjadi orang yang baik dan sukses. Dengan waktu yang diatur sedemikian rupa akan membuat kerja kita mejadi maksimal dan tidak terbuang sia-sia. Kita memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Kesempatan untuk menjadi orang sukses dan orang berkualitas ada ditangan kita. Semuanya berpulang pada setiap individu. Individu yang bisa mengatur waktu dan memaksimalkan aktifitasnya memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi orang yang sukses dan berkualitas.

Hargailah waktu jika anda ingin menjadi lebih baik. Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya jika anda ingin menjadi orang sukses dan berkualitas. Jika gagal menghargai waktu maka kehidupan kita akan menjadi
sia-sia. Mereka yang sukses secara duniawi maupun sukses secara batin adalah orang-orang yang bisa mengatur waktu dengan baik. Hari-hari mereka diisi dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat. Ingat! Siang dan malam yang terus berlalu, kehidupan kita berkurang sebanyak itu. Oleh karena itu lakukan hal yang produktif dalam kehidupan ini.

Sumber : Bhikkhu Abhayanando (Dhamma Inspirasi Kehidupan, kumpulan tulisan)

Read more »

PROFIL ADMIN

Profil Admin:

dharmavirya.blogspot.com
Motto : "Selalu Semangat, Belajar, dan Menjalankan Dhamma"

 Namo Buddhaya,. Namo Dharmaya,. Namo Sanghaya,. _/|\_

Salam sahabat,...
selamat datang di blog Dharma Virya.

Sebelum panjang x lebar x tinggi :) saya "admin" ingin menampakan diri untuk sahabat dimanapun,.

Nama       : Dharma Virya
TTL          : Tangerang, 07-08-90
Pekerjaan : Design di Star Property
Kegiatan   : Kuliah, Futsal, Lion & Liong Dance, dan Ngeblog.

Walaupun blog ini milik pribadi tapi blog ini bersifat universal. 
Di blog ini memiliki artikel-artikel Dhamma berdasarkan ceramah-ceramah, majalah buddhis, situs buddhis, dan e-book. Yang saya sajikan untuk sahabat, semoga sahabat dapat memahami makna dhamma.

Dhamma  artinya  kebenaran  nyata  yang  dibabarkan  Sang  Buddha,  yang berisikan petunjuk lengkap untuk mencapai kebahagiaan. Dhamma Sang Buddha  bukan  hanya  sesuai  untuk  para  bhikkhu, samanera,  maupun mereka  yang  tinggal  di  vihara  saja.  Dhamma  Sang  Buddha  juga  sangat bermanfaat untuk para perumah tangga yang tinggal dalam masyarakat luas.

Tak hanya berisikan religi semata, tapi juga saya sajikan special untuk sahabat. Tentang berbagai macam cerita, iptek, sains, pengetahuan alam, dan kejadian-kejadian di Dunia.
================================================================

Blog ini memiliki banyak kekurangan, maka dari itu saya ingin sahabat dimanupun memberikan kritik dan saran agar blog ini menjadi lebih baik,.

Jika sahabat memiliki cerita dalam bentuk word, pdf, dll. Sahabat boleh berbagi ke saya dan akan  diposting kedalam blog ini,. sedikit berdana, membahagiakan banyak orang itu luar biasa,.

kirimkan krtik & saran, dan cerita menarik sahabat ke E-Mail : dharmavirya@gmail.com
jangan lupa biodata yg lengkap,. ok sahabat,. :)

Selamat beraktifitas kawan-ku
sabbe satta bhavantu sukhitatta "Semoga semua makhluk berbahagia"