TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG DI BLOG "DharmaVirya.Blogspot.com", "Selalu Semangat, Belajar, dan Menjalankan Dhamma", Semoga Blog ini bermanfaat untuk orang banyak,.... JANGAN BOSAN-BOSAN YA,.. DI TUNGGU KEDATANGANNYA KEMBALI :)

DharmaVirya To Android

Untuk memudahkan Sahabat membaca artikel-artikel dan update selalu dari blog DharmaVirya.
kini telah hadir digengamanmu, sebuah aplikasi DharmaVirya diandroid,. 
Sahabat bisa langsung Download GRATISSSSS 

CLIK DOWNLOAD
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juli 2011

Meditasi Buddhis dan Bioscience atau Ilmu Pengetahuan Tentang Hidup dan Kehidupan

Oleh : U. Aung Thein

Sangat menarik untuk dicatat bahwa begitu ilmu pengetahuan tentang manusia dan alam semesta itu bertambah maju, maka makin banyak diketemukan bukti-bukti yang memperkuat kebenaran doktrin yang diajarkan oleh Sang Buddha. Agama Buddha adalah Jalan Kebebasan (atau Jalan untuk Mencapai Nirvana), yang diajarkan oleh Sang Buddha. Ajaran Agama Buddha tersebut dikemukakan didalam ajaran tentang Kasunyataan yang dinamai Empat Kasunyataan Mulia, yang juga mencakup ajaran yang dinamai Delapan Jalan Utama. Kebebasan berarti berhentinya secara tuntas dan sempurna, dari mengalami cyclus kehidupan dan kematian.


Ilmu pengetahuan adalah penyelidikan yang objektif terhadap hukum-hukum alam untuk dapat membentuk generalisasi-generalisasi dan keterangan-keterangan mengenai fakta-fakta yang diobservasi. Tepatlah pernyataan yang dikemukakan oleh seorang ahli physiologi Perancis, yang bernama Loeb, yang berbunyi : "Tujuan yang paling utama dari ilmu pengetahuan, ialah meramalkan sesuatu."


Jalan untuk mencapai Kebebasan, yang diajarkan oleh Sang Buddha, itu dapat digambarkan sebagai suatu penghayatan kehidupan yang berisi Pengalaman-pengalaman dan Eksperimen-Eksperimen. Sama seperti bahwa didalam ilmu pengetahuan, itu sang penyelidik (= ilmuwan) mengadakan langkah-langkah secara setapak demi setapak, demikian juga didalam Agama Buddha, seseorang itu maju menuju ke pencapaian tujuan, secara selangkah demi selangkah; pula diperolehnya pengetahuan, itu juga secara sedikit demi sedikit. Tidak ada hal-hal yang tabu (atau dilarang) untuk ditanyakan; kepercayaan yang membuta itu membawa orang kesana-kemari, yang tidak menentu tujuannya. Pengalaman yang teguh dalam pelaksanaan ajaran Berfikir Yang Benar, Berkata Yang Benar, dan Berbuat Yang Benar, akan mengubah seseorang untuk memiliki sifat teguh dalam melakukan hal-hal yang mulia, yang membawanya hingga tiba pada titik puncak pencapaian keadaan berhentinya, atau bebasnya, dari cyclus kelahiran dan kematian, secara tuntas dan sempurna.


Ke-Delapan Jalan Utama itu digolongkan menjadi Tiga Bagian Utama; Bagian Utama Yang Pertama, Yang terdiri dari Tiga Ajaran, yaitu Ajaran untuk; Berbicara Yang Benar, Berbuat Yang Benar, dan Ber-Mata-Pencaharian Yang Benar, dinamai Bagian Utama Ajaran Kesusilaan (= Virtue); Bagian Utama Yang Kedua, yang terdiri dari Tiga Ajaran, yaitu Ajaran untuk; Ber-Usaha Yang Benar, Ber-Perhatian Yang Benar, dan Ber-Konsentrasi Yang Benar, dinamai Bagian Utama Ajaran Meditasi (= Meditation); dan Bagian Utama Yang Ketiga, yang terdiri dari dua Ajaran, yaitu Ajaran untuk : Ber-Pandangan, atau Ber-Pengertian, Yang Benar, dan Ber-Cita-Cita, atau Ber-Niat, Yang Benar, dinamai Bagian Utama Ajaran Kebijaksanaan (= Wisdom = Realization).


Didalam Agama Buddha, diterima sebagai fakta yang fundamental bahwa semua makhluk hidup itu adalah merupakan suatu bentuk yang integral dari Ke-Lima 'Skandha' yaitu: Mentalitas (= Mentality), persepsi (= perception), Sensasi (= Sensation), Aktivitas-Aktivitas Mental (= Mental Activities), dan Kesadaran (= Consieousness). Ke-Lima Komponen, yang sifatnya tidak permanen dan saling bergantungan yang satu dengan yang lainnya itu, melalui aksi-aksinya yang tetap berlangsung secara berlanjut, dalam titik-titik proses kehidupan, menghasilkan suatu mata-rantai kelahiran kembali (atau kelahiran dan kematian secara berulang-ulang), sejak waktu yang tidak berpermulaan, dan akan berlanjut terus, sampai tiba pada titik ada counter-aksi, yang dapat melenyapkan karma-karma yang menyebabkan adanya kelahiran kembali, atau sampai titik dapat dicapainya Kebebasan yang final, dan tanpa terdapatnya sisa-sisa karma lagi.


Marilah kita pelajari mengenai proses kehidupan dan "MANUSIA", yang terdiri dari lima komponen tersebut dimuka; yang mengenai hal itu, Sang Buddha bersabda sebagai berikut: "Didalam tubuh (maksudnya barangkali yang dinamai badan-sebab, atau karana-sharira), yang keberadaannya lama sekali jangka waktunya, dan (hampir-hampir) tak memiliki batas waktu (yang dipakai dalam banyak kelahiran dan kematian itu), terletak mysteri-mysteri dan problema-problema dari alam semesta."
Didalam naskah Satipatthana Sutta dan Mahasatipatthana Sutta, diterangkan bahwa tubuh ini merupakan suatu gabungan dari berbagai organ, yang terdiri dari zat-zat cair dan padat. Selanjutnya, diterangkan pula didalam naskah "Milinda-Panha" bahwa didalam menjawab pertanyaan Sang Raja, seorang yang berkepribadian yang besar dan suci, telah membandingkan tubuh ini dengan kumpulan bagian-bagian dan telah mengemukakan pendapatnya bahwa disitu (didalam tubuh) tidak terdapat sesuatu entitas (= entity) yang menempatinya.


Dari sudut anatomis dan biochemis, badan ini tidaklah lain adalah suatu pergabungan sistem-sistem organis, didalam mana proses-proses chemis berjalan, dan secara tetap mengalami perubahan-perubahan. Tubuh ini keadaannya seperti Servomechanisme, karena apabila sesuatu bagiannya mengalami gangguan, maka keseluruhannya merasakan akibatnya. Kemampuan dan kecenderungan badan, yang selalu akan kembali ke keseimbangannya yang normal, atau ke garis basisnya, dikenal dengan istilah Homeostasis.


Untuk memelihara agar badan dan jiwa, berkeadaan harmonis, menurut ajaran Agama Buddha, diperlukan persyaratannya, yang berupa dicapainya kesehatan di bidang physik (= Jasmaniah), Emosional (= Perasaan), dan Mental (= Fikiran), yang dapat dicapai dengan melalui pelaksanaan Meditasi.


Keseimbangan tubuh, perasaan, dan fikiran, dapat diperoleh dengan jalan mempraktekkan Ajaran Kesusilaan (= atau Kebajikan = Virtus), yaitu bagian Utama yang Pertama dari Ajaran Delapan Jalan Utama. Ajaran Kesusilaan atau Kebajikan ini, diuraikan didalam naskah suci Visuddhimagga, berupa : menghindari berbuat jahat, ber-kemauan-baik, dan tidak serakah. Adapun sifat-sifat yang mengganggu tercapainya Kebaikan, adalah : kemarahan, kejahilan, hypocrisy, kegiatan merangsang orang-orang lain untuk berlaku berang, iri-hati atau cemburu, suka mengakali atau mendustai orang lain, suka mengganggu orang lain, kesombongan, kebangaan-diri, suka bermalas-malasan, suka memenuhi godaan hawa-nafsu, membiarkan dirinya ketagihan akan kenikmatan mulut dan lidah, suka berbicara kotor dan kasar, dan tidak berusaha mengekang kegiatan indria-indria yang mengarah ke pemuas hawa-nafsu. Keadaan-keadaan atau sifat-sifat yang meng-counter-aksi, atau yang berlawanan dengan sifat-sifat negatif tersebut dimuka itu, dapat menjadi penyebab tercapainya kebajikan atau kesusilaan.


Sesuatu dari keadaan-keadaan atau sifat-sifat yang negatif tersebut dimuka, itu menghasilkan perubahan-perubahan didalam keseimbangan blochemis dari badan. Makin tidak seimbang keadaan diri, atau tubuh seseorang, menjadi makin banyak dikeluarkan substansi-substansi neuro-transmitter, sebagai misalnya Acetylcline, Scrotonin dan Epinefrin. Zat-zat tersebut menyebabkan lalu dihasilkan banyak type-type effek, yang bermacam-macam, terhadap organ-organ tubuh, sebagai misalnya pada kelenjar buntu thyroid, adrenal cortex, saluran-saluran pencernaan makanan dan pada organ-organ seksual. Misalnya, apabila seseorang berang, maka kemarahan atau agitasinya yang dialaminya itu menyebabkan dihasilkannya Epinefrin, yang selanjutnya ini mengakibatkan tekanan darahnya naik, dan output cardialnya, serta konsumsi oxygennya menjadi makin bertambah.


Keadaan lainnya yang kita alami adalah rasa takut dan kecemasan. Selama orang mengalami ketakutan dan kecemasan, lebih banyak jumlah acid yang dikeluarkan dari pada yang biasa, terhadap saluran-saluran pencernaan makanan, hal ini selanjutnya mengakibatkan membran-nya terkena serangan acid dalam jumlah yang banyak, dan sebagai hasilnya orangnya menderita penyakit ulcer, atau mengalami luka pada ususnya.
Keadaan ketegangan syaraf yang berlangsung lama, telah diketahui menjadi sebab rusaknya sistem syaraf autonomis, didalam cara yang sedemikian rupa, sehingga mempengaruhi peristalsis, secara negatif, yang menjadikan rusaknya fungsi-fungsi pencernaan makanan dan pengeluaran kotor-kotoran dari tubuh. Hal tersebut mengakibatkan penyakit sembelit (= tidak dapat buang air besar) dan peracunan terhadap dirinya sendiri, dan keadaan ini mempengaruhi kesehatan physik, emosional, dan mental, dari orang yang bersangkutan, yaitu mengalami penyimpangan fungsi dari yang sewajarnya.


Dari uraian tersebut diatas, kiranya dapat kita mengerti mengapa Sang Buddha menggaris-bawahi praktek kebajikan, atau kesusilaan, sebagai syarat penting untuk keberhasilan meditasi. Praktek meditasi tidak mungkin berhasil, apabila badan jasmani, emosi, dan fikiran, seseorang, mengalami gangguan. Seseorang yang mempraktekkan kebajikan, atau kesusilaan, akan dapat melaksanakan meditasi secara sukses, dapat menghilangkan gangguan-gangguannya, dan dapat berkontemplasi (= bermeditasi) terhadap realitas, dan akhirnya dapat mencapai Kebebasan (bebas dari mengalami penderitaan). Ketiga tujuan utama ini dapat dicapai dengan melaksanakan Ke-Empat Jhana.


Sama keadaannya bahwa didalam ilmu pengetahuan, itu pencapaian tujuan diperoleh secara setapak demi setapak dan secara methodis, demikian juga pencapaian tujuan Agama Buddha, didalam meditasi, itu dicapai secara setingkat demi setingkat dan secara hirahis, serta erat sekali kaitannya dengan keadaan dari tubuh physiknya.


Dimilikinya kemampuan dapat bermeditasi dengan sikap badan yang baik dan teguh, dapatnya diatur fikirannya secara mantap, tanpa mengalami teralihkan perhatiannya kesana-kemari, dan telah dapatnya berkonsentrasi secara mendalam, adalah persyaratan utama untuk meditasi yang baik. Sang Buddha memuji tinggi-tinggi methode yang dapat menghasilkan ketenangan, melalui pemusatan perhatian terhadap pernapasan, dengan jalan mana, Beliau sendiri telah dapat mencapai Penerangan Sempurna.


Para penyelidik modern telah menemukan fakta bahwa seseorang yang sedang bermeditasi itu mengalami menjadi lambatnya kecepatan pernapasannya; konsumsi oxygen menjadi berkurang sekitar 20 %, dan output Co2-nya mengalami penurunan pula.


Effek-effek, akibat-akibat, physiologis, yang berupa pengurangan kecepatan metabolisme, diungkapkan pula; juga dicatat berkurangnya lactic acid didalam darah, yang dalam waktu yang bersamaan nampak naiknya didalam pH dan berkurangnya response Galvanic yang berhubungan dengan kulit, sewaktu orang melakukan meditasi.


Dengan telah diatasinya hambatan-hambatan, yang menghasilkan keadaan tenangnya physik dan mentalnya, bersama-sama dengan makin berhasilnya praktek meditasi, maka Jhana yang pertama tercapai. Keadaan tak berkeinginan (keinginan tingkatan rendah) ini berhubungan dengan telah dapat dikontrolnya secara mutlak alam wujud-wujud (= plane of form). Transisi permulaan untuk mencapai kemahiran dalam berkelana di Jalan Suci ini, dikatakan merupakan tugas yang paling berat.
Setelah dapat mencapai tingkatan Jhana Yang Pertama, Sang Jhani berusaha untuk mencapai penguasaan atas alam-alam mental. Jhana Yang Ke-Dua ini berhubungan dengan kekuatan untuk berkonsentrasi, yaitu kemampuan memusatkan konsentrasinya pada kekuatan-kekuatan mental. Ini dikenal dengan istilah Ekkagatha, atau Pemusatan Fikiran pada Satu Titik.


Orang dapat membayangkan betapa hebat kekuatan yang dicapai oleh seseorang yang telah dapat bermeditasi yang berlangsung lama dan mantap, atas otaknya dan atas reaksi-reaksi biochemisnya, kalau kita ketahui bahwa menurut ilmu pengetahuan, latihan meditasi yang biasa dan berlangsung singkat saja, telah dapat mengubah objek didalam eksperimen yang telah dilakukan.


Pada WCLA Berkley di tahun 1964, laboratori yang khusus, telah dapat mengungkapkan bahwa apabila makin diperkaya lingkungan-sekitar belajarnya seseorang, maka akan makin berkembang dan makin teballah lapisan-lapisan cortex, yang yang mengakibatkan makin besarnya aktivitas total dari kedua enzym otak. Makin kayanya lingkungan sekitar belajar itu juga menghasilkan cel-cel yang lebih besar.
Adalah merupakan pengetahuan yang sifatnya umum fikiran yang terkonsetrasikan dan jiwa yang tenang itu menghasilkan gelombang-gelombang yang sifatnya tertentu. Keadaan ketenangan jiwa ini dapat diketahui sifatnya dan dapat diusahakan dipertahankan keadaannya, melalui alat-alat bio-feadback.


Aktivitas-aktivitas mental itu dikenal mempengaruhi produksi dari RNA, yang erat hubungannya dengan protein syntehsis. Keduanya, RNA dan molekul-molekul protein menyarankan kepada orang, untuk berkesimpulan bahwa itu berhubungan dengan ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Keadaan mental selama orang melaksanakan meditasi, itu dapat mempengaruhi produksinya type khusus dari RNA dan protein-protein. Dr. Penfield didalam penyelidikannya mengenai perangsangan terhadap otak telah menunjukkan bahwa perangsangan pada otak itu dapat menyebabkan timbulnya kembali pengalaman-pengalaman di masa yang lampau, yang caranya adalah dengan mengadakan rangsangan elektris terhadap otak. Didalam cara yang sama, seorang Jhani dengan kekuatan konsentrasinya dapat merangsang aktivitas elektris didalam sesuatu bagian dari otak, yang mengakibatkan dapat menimbulkan kembali ingatan-ingatan. Karena makhluk-makhluk hidup itu telah ada sejak waktu yang permulaannya tidak diketahui, maka adalah mungkin untuk mengambil kesimpulan bahwa masalah pemanggilan kembali ingatan-ingatan kehidupan di masa-masa yang lampau itu dapat dicapai oleh seseorang yang telah mampu memiliki Tingkatan Jhana yang Ke-Dua, melalui mechanisme jasmaniah.


Jhana tingkat Ke-Tiga adalah keadaan didalam mana Sang Jhani berada didalam Ketenangan dan Keadaan Bersikap Adil. Dia memandang dengan tenang dan tidak berat sebelah, maupun tanpa kehilangan kewaspadaan dalam pengamatan terhadap benda-benda, atau hal-hal, sewaktu benda-benda, atau hal-hal, itu muncul dan lenyap. Dia ada didalam pemilikan energi yang berkeadaan seimbang. Dia tidak berkeadaan sangat tegang, maupun tidak terlalu santai, dan dia ber-eksistensi seperti sebuah molekul didalam keadaan dasar dari energi. Didalam keadaan ini, proses badan seseorang membutuhkan sejumlah energi yang sedikit saja, dan orangnya dapat merasa puas atas fungsi chemis utamanya, dari kehidupannya, yang dapat meminimkan, membuat sesedikit mungkin, entropi pada dirinya. Entropi adalah ukuran ketidak-teraturan atau kekacauan, dan fungsi-fungsi tubuhnya, yang mencakup perasaannya, dan fikirannya. Sang Jhani didalam keadaan yang demikian itu, telah bebas dari kegelisahan, kecemasan dan ke-agitasi-an, atau keadaan ingin marah atau menjadi berang.


Setelah dapat mencapai Tingkatan Jhana Yang Ke-Empat, seorang Jhani berada didalam keadaan kemurniaan badan, perasaan, dan fikiran, disertai dengan pemilikan kemampuan bersikap penuh kewaskitaan dan ketenangan serta keadilan. Dengan telah berhentinya, atau telah bebasnya orang, dari penderitaan dan kenikmatan, keduanya, baik badan jasmaninya maupun mentalnya, akhirnya dia dapat mencapai bebas dari keterikatan secara tuntas, dan berada didalam keadaan yang bebas, atau telah mencapai Kebebasan Spiritual.


Saya akan mengakhiri uraian dari artikel saya ini, dengan contoh-contoh ilmiah, yang ada hubungannya dengan masalah meditasi. Telah diketahui oleh ilmu pengetahuan bahwa transmisi neural (penyampaian getaran elektris pada syaraf) itu dipengaruhi oleh keberadaan ion-ion calcium. Getaran-getaran electromagnetis dari sekitar 7 hingga 13 cyclus per detik dihasilkan orang, selagi dia melakukan meditasi. Apabila getaran-getaran electromagnetis dari frekwensi yang tersebut diatas itu disentuhkan pada otak, akan terdapat aliran sejumlah banyak calcium, dari syaraf-syaraf cel-cel membran. 


Eksperimen mengenai ruang, yang dilakukan pada akhir-akhir ini, yang dilakukan oleh para astronaut didalam keadaan diperpanjangnya keadaan tanpa bobot, di angkasa luar, telah lebih memperbesar rasa atau penghayatan keagamaan, lebih banyak dari pada penghayatan pengalaman spiritual.
Makin banyaknya dibebaskannya ion-ion calcium, yang disebabkan oleh decalcifikasinya tulang-tulang, itu mengakibatkan, ion-ion calcium beredar didalam aliran darah, yang memungkinkannya hingga sampai di otak.


Adalah merupakan hal yang masuk akal, kalau kita mengambil kesimpulan bahwa keduanya, yaitu pengalaman spiritual dari sang meditator dan para astronanut didalam keadaan tanpa bobot, itu dapat dilacak kepada phenomena physiologis, yang sama, yaitu perubahan ikatan calcium didalam sistem neurologis.


Sebagai ringkasan dari yang telah saya kemukakan dimuka, saya telah menunjukkan didalam artikel ini, bahwa walaupun waktu penyampaiannya berkeadaan berbeda, namun apa yang diajarkan oleh Sang Buddha itu bersifat ilmiah. Tujuan dari keduanya, baik Agama Buddha, maupun Ilmu Pengetahuan, adalah untuk menemukan hukum-hukum alam, dan akhirnya, dengan mengikuti tehnik-tehnik yang tepat, orang dapat mencapai yang menjadi tujuannya, sesuai dengan yang telah diramalkannya.
Sang Buddha telah bersabda sebagai berikut : "Lakukanlah Ehipassako! Datang dan lihatlah dengan mata kepala anda sendiri! Dan terimalah pesan dari artikel ini : "Ber-Meditasi-lah! Ber-Eksperimen-lah! Dan hayatilah Ajaran-Ajaran dari Buddha Dhamma!".

Read more »

Karma, Kelahiran Kembali dan Ilmu Genetika

Oleh : Buddhadasa. P. Kirthisinghe

Kebahagiaan dan penderitaan, yang umum dialami sebagai nasib dari semua makhluk hidup, terutama bagi manusia, itu menurut pandangan Agama Buddha, tidak dianggap sebagai hadiah atau hukuman, yang diberikan oleh seorang Deva kepada roh yang telah melakukan perbuatan yang baik atau yang buruk. Umat Buddha mempercayai hukum alam, yang dinamai hukum 'sebab dan akibat', yang umum berlaku pada semua gejala-gejala alam. Umat Buddha tidak percaya kepada seorang Deva yang dianggap maha kuasa, dan oleh karena itu hukum 'sebab dan akibat', yang merupakan hukum alam itu, berlakunya tidak dapat dihambat oleh Deva, bahwa juga tidak dapat dihambat oleh semua Buddha, walaupun semua Buddha itu telah memiliki cinta-kasih yang universal.


Hukum 'sebab dan akibat' itu dalam bahasa Sanskrit, dinamai 'karma' dan didalam bahasa Pali, dinamai 'kamma', yaitu bahasa-bahasa yang dipergunakan didalam Agama Buddha. Didalam kata-katanya Sang Buddha, kita temui ajaran yang bunyinya sebagai berikut: " 'Karma' kita sendirilah, atau perbuatan kita sendirilah, yang baik, dan yang buruk, yang menghadiahi dan menghukum kita". Apakah 'karma' itu?. 'Karma' adalah suatu kekuatan, yang kebajikannya, menimbulkan reaksi yang mengikuti sesuatu aksi; 'karma' adalah energi yang membuat jalan keluar; atau yang menyebabkan kita sekarang ini, hidup di alam ini; dan kehidupan kita yang baru ini adalah merupakan suatu aliran kehidupan yang tak habis-habis energinya, yang mengalir secara berlanjut, tanpa henti-hentinya.


Oleh karena itu, Yang Mulia Piyadassi Thera berkata : "Selama ada kemauan selama itu ada perbuatan. Selama ada perbuatan, selama itu ada suatu realitas kejam, yang timbul sebagai akibat dari suatu 'karma' yang buruk; dan selama ada perbuatan, hadiah serta hukuman, itu bukan merupakan kata-kata yang kosong. Keinginan itu menimbulkan perbuatan; perbuatan menimbulkan hasil; hasil itu mempertunjukkan dirinya sebagai suatu corporealitas baru, yang diisi dengan keinginan yang baru. Energi yang bersifat kenyal (= elastis) itu selalu mengubahnya menjadi kehidupan yang segar, dan kita hidup secara abadi melalui keinginan kita yang kuat untuk hidup. Adapun yang menjadi medium-nya, sarana-nya, yang membuat semua kemungkinan itu ada, adalah 'karma'.


Seperti yang dikatakan oleh Dr. Paul Bahlke, dari Jerman, yang dikemukakan didalam naskahnya yang berjudul 'Essay-Essay Buddhis', kita juga berpendapat bahwa, adalah pengetahuan tentang hukum sebab dan akibat, aksi dan reaksi, yang mendorong seseorang untuk mencegah dirinya untuk tidak berbuat jahat dan untuk memperbanyak perbuatan-perbuatan yang baik. Seseorang yang mempercayai hukum sebab dan akibat, mengetahui dengan sangat baik, bahwa hanya perbuatan dirinya sendirilah, yang membuat kehidupannya berisi penderitaan, dan sebaliknya, hanya perbuatan dirinya sendiri pula, yang membuat kehidupannya berisi kebahagiaan.


Keadaan seseorang, hari ini, adalah merupakan hasil dari jutaan pengulangan-pengulangan dari fikiran-fikiran dan perbuatan-perbuatannya. Dia bukan makhluk yang sekali tercipta telah berkeadaan seperti sekarang ini; dia berkeadaan selalu menjadi keadaan yang baru, dan senantiasa tetap mengalami perubahan-perubahan, menjadi sesuatu yang baru, berikutnya lagi. Watak-wataknya ditentukan sebelumnya, oleh pemilihan-pemilihannya sendiri. Jenis fikirannya, dan jenis perbuatannya, yang dia pilih, menjadi kebiasaan-kebiasaannya, dan selanjutnya ini menentukan dia untuk menjadi manusia dengan watak-watak yang tertentu.


"Karma itu secara mutlak bersifat tidak mengenal belas kasihan, dan cara bekerjanya tidak pandang bulu. Sama keadaannya seperti sebuah cermin yang telah dibersihkan dengan sangat baik, itu mampu memantulkan pada permukaannya, gambar yang sebaliknya, hingga ke hal yang sekecil-kecilnya, demikian juga "karma" itu dapat memberikan kepada orang yang melakukan perbuatan, akibat yang membalik, yang tepat sama dengan jenis perbuatan yang telah dilakukannya."


Yang tersebut dimuka tadi, sama seperti sabda Sang Buddha, sebagai berikut : "Tidak ada tempat untuk persembunyian di langit, atau di kedalaman dari samudera, pun juga tidak dapat dengan cara masuk ke dalam gua di sebuah gunung, atau juga di mana pun di Bumi ini, jika anda ingin menghindar dari terkena akibat dari buah perbuatan anda."
Cara untuk bebas dari 'karma' tidak dapat diajarkan, itu hanya dapat dihayati; tujuan tersebut hanya dapat dicapai dengan menghayati kebajikan-kebajikan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan didalam kehidupan. Setiap individu haruslah merasa perlu untuk dapat bebas dari ikatan karma. Didalam tangan kita sendirilah letak dari kekuatan pembentuk nasib kita sendiri. Orang-orang lain dapat menolong kita secara tidak langsung, tetapi kebebasan dari penderitaan, itu haruslah kita sendiri yang melakukannya, dan kita sendirilah yang haruslah menempa, dengan landasan diri kita sendiri pula.


Psychologi (= ilmu-jiwa)-nya Buddhis, mengungkapkan bahwa pada diri manusia itu terdapat kemungkinan-kemungkinan yang masih bersifat terpendam, dan potensi-potensi untuk mencapai kemungkinan-kemungkinan itu harus diperkembangkan dan direalisir, dengan usaha-usaha yang nyata. Manusia adalah merupakan kumpulan dari perbuatan-perbuatan yang baik dan yang jahat. Dia selalu mengalami perubahan, ke arah menjadi baik, atau menjadi jahat. Perubahan ini tidak dapat dihindari, dan tergantung sama sekali kepada perbuatan-perbuatannya sendiri, dan tidak tergantung kepada sesuatu yang lain. Dengan perbuatan-perbuatan kita, kita membentuk watak-watak kita, kepribadian kita, individual kita. Harus hanya melalui perbuatan-perbuatan kita sendiri saja, kita dalam berusaha untuk mengubah kembali diri kita, dan untuk memenangkan atau membebaskan diri kita, dari penderitaan-penderitaan.


Adalah keharusan kita sendiri untuk dapat hidup, adalah keinginan kita sendiri untuk dapat hidup, adalah ketergantungan kita kepada hiduplah, yang membuat permainan aksi dan reaksi, yang tak ada henti-hentinya ini, bergerak terus dengan tidak putus-putusnya. Selama kita gagal untuk melihat sifat yang sebenarnya dari hukum sebab dan akibat, sifat yang sebenarnya dari persebaban moral, selama itu pula masih terdapat keinginan dan ketidak-tahuan didalam diri kita, dan dengan demikian kita akan masih berkeadaan terikat kepada "Roda Kelahiran dan Kematian Secara Berulang-Ulang" itu. Apabila unsur penyebab dari sesuatu, telah dapat kita hancurkan maka secara automatis kemunculan unsur akibatnya, akan berhenti. Penderitaan akan menjadi lenyap, apabila akar-akar yang kecil-kecil dan bermacam-macam, dari penderitaan, telah dapat dilenyapkan. Seseorang, misalnya, yang membakar biji buah mangga, hingga menjadi abu, mengakibatkan berhentinya kekuatan pertumbuhan, dan biji buah mangga itu tidak akan pernah dapat menjadi sebuah pohon buah mangga. Itu sama keadaannya dengan yang terjadi pada sesuatu yang terkena persyaratan-persyaratan (= terkena kondisi-kondisi) dan yang terdiri dari komponen-komponen, apakah itu benda mati, atau makhluk hidup.


Sama seperti bahwa bayangan itu mengikuti bendanya, dan sama seperti bahwa asap itu muncul setelah ada api, demikian jugalah unsur akibat itu baru muncul, setelah ada unsur penyebabnya, dan penderitaan atau kebahagiaan itu muncul, setelah pada diri orang, ada fikiran dan perbuatan, yang bersifat buruk, atau baik. Tidak ada akibat-akibat disekeliling kita, di dunia ini, kecuali ada unsur-unsur penyebabnya, yang mungkin tidak tampak, atau belum terbabar, yang lalu mangejawantah (= manifest); dan bagaimana pun jenis penyebabnya, itu menghasilkan akibat-akibat, yang perbandingannya tepat sama dengan jenis-jenis penyebabnya. Orang-orang menuai hasil panenannya, yang berupa penderitaan, karena di masa yang lampau, yang waktunya dekat, atau jauh (di masa kelahirannya yang lampau), atau dalam kelahirannya yang sekarang ini, mereka pernah menanam benih kejahatan; dan orang-orang menuai hasil panenannya, yang berupa kebahagiaan, karena hal itu merupakan hasil perbuatan mereka di masa yang telah lalu, dalam menanam benih kebaikan-kebaikan.
  • "Seseorang yang bekerja sangat keras, mengerjakan tugasnya sebagai pelayan, mungkin saja, pada suatu ketika, didalam, kelahirannya yang akan datang, menjadi Pangeran yang baru.
  • Seorang Raja yang memerintah sebuah Kerajaan, mungkin saja, lalu dalam kehidupannya di dunia, pada kelahirannya yang akan datang, menjadi pengembara yang miskin, dengan pakaian compang-camping, karena dalam kehidupannya yang sekarang ini, Sang Raja telah berbuat sesuatu yang sangat buruk, dan telah melalaikan kewajibannya dalam berbuat kebaikan."
Biarlah seseorang mau bermeditasi terhadap ajaran tentang hukum sebab dan akibat ini, biarlah dia berusaha untuk memahaminya, dan semoga dia rajin menanam benih-benih kebaikan, dan rajin pula melenyapkan bintik-bintik kotor dari sifat-sifat jahatnya, yang terdapat didalam hatinya, yang merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan jahatnya di masa kelahirannya yang lampau, bagaikan petani yang rajin melenyapkan rumput-rumput pengganggu tanaman di kebunnya.

KELAHIRAN KEMBALI


Kelahiran kembali, atau keadaan tetap hidup terus sesudah orang meninggal dunia (dan lalu pada suatu ketika terlahirkan lagi di dunia), diterima sebagai fakta kehidupan, didalam Agama Buddha. Energi atau kekuatan yang terkumpul ini berlanjut terus untuk memanifestasikan diri pada kesadaran di berbagai lapisan alam lainnya. Menurut hukum konservasinya energi dan hukum bahwa zat itu tidak dapat dihancurkan, kita yakini bahwa didalam proses kelahiran kembali, itu tidak ada sesuatu yang hilang. Vitalitas atau kekuatan karma yang lenyap dari tubuh kita, itu lalu (didalam kelahiran kembali) memulai cyclus pengambilan tubuh, yang baru.


Kekuatan karma tersebut adalah aliran kehidupan (= santati = life flux) yang berlanjut terus dalam mencari jalan untuk memanifestasikan dirinya, dari satu alam kehidupan ke alam kehidupan berikutnya, dan energi karma ini didukung oleh kekuatan keinginan (untuk hidup). Ini adalah kekuatan karma yang sifatnya tidak nampak.


'Karma' adalah suatu bentuk energi, yang kita bawa dari kehidupan yang satu (kelahiran yang satu) ke kehidupan (kelahiran) yang berikutnya yang bersifat 'kusala' dan 'akusala', yaitu yang sifatnya baik dan buruk. Apabila kita telah meninggal dunia, materi karma kita, berubah didalam bentuk energi, sampai dicapainya rahim yang bersesuaian, dimana telur (= ovum) dan mani (= sperma) bergabung, untuk memvitalisasikannya. Sang Ayah dan Sang lbu hanya menyediakan materi untuk kehidupan makhluk yang baru. Faktor karma atau kekuatan individual (vinnana, atau kesadaran kelahiran kembali) adalah keadaan yang mengkondisikan, mempersyarati, suatu kehidupan yang baru. Ini tidak menyangkal keterangan dari ilmu pengetahuan (= science) tentang genetika, yang menerangkan bahwa anak itu mewarisi ciri-ciri dari orang tuanya dan sanak keluarganya yang dekat. Seorang anak itu juga dibentuk oleh lingkungan sekitar sosial, tetapi semuanya itu dikondisikan oleh "karma"-nya.


Didalam Agama Buddha, diterangkan bahwa terdapat lima dunia kehidupan, yang berkeadaan berbeda yang satu dengan yang lainnya, dan oleh karena itu, memungkinkan terdapatnya lima jalan untuk kelahiran kembali. Adapun ke-lima alam kehidupan itu adalah : alam kehidupan hewan, alam kehidupan roh (yang dinamai "spirit' atau "ghost"), alam neraka, alam kehidupan manusia, dan alam "sakkaloka" atau surga.

ILMU PENGETAHUAN GENETIKA


Ilmu Genetika adalah studi mengenai physiology tentang reproduksi (menurunkan jenis, mempunyai keturunan) dan ketrampilan mengembang-biakkan tanam-tanaman dan hewan-hewan.
Semua warisan (= heredity) itu ditransmisi-kan (= diliyerkan) dari satu generasi ke generasi berikutnya, melalui cel-cel sex yang sangat kecil, yang dinamai sperm (= mani, pada pria) dan ova (= telur, pada wanita). Kedua cel itu bergabung didalam rahim, untuk membentuk telur yang dibuahi, yang tumbuh menjadi foetus (= janin bayi) dan akhirnya lahirlah seorang bayi.


Ayah dan ibu itu keduanya penting didalam transmisi, atau peliyeran, warisan. Inti-inti dari cel-cel sex itu berisi chromosome-chromosome, dan setiap sperma manusia itu berisi 24 chromosome, separo (= setengah) dari jumlah itu berisi cel-cel yang normal, dan jumlah ini bervariasi pada hewan-hewan lainnya dan pada tanam-tanaman.
Fertilisasi atau pembuahan itu terdiri dari bergabungnya inti sperma dengan inti ovum. Cel telur yang telah dibuahi ini lalu membagi dua, lalu menjadi empat, lalu menjadi delapan, dan akhirnya menjadi bilyunan cel-cel tubuh orang dewasa. Gregor Johann Mendel meng-identifikasi-kan unit-unit warisan sebagai gene-gene. Kita dapati unit-unit kehidupan didalam chromosome-chromosome dan didalam molekul yang wujudnya sangat kecil. Setiap ciri yang tampak pada tanaman-tanaman dan pada hewan-hewan itu mempunyai gene-gene, yang seperti telah dikatakan dimuka, itu dibawa chromosome-chromosome, yang terdapat didalam inti-inti dari semua cel kehidupan. Mendel telah menemukan hukum pewarisan, sebagai berbanding 3 dan 1, pada tanaman-tanaman dan pada hewan-hewan. Beliau juga telah menemukan gene-gene yang dinamai yang bersifat dominant dan yang bersifat recessive. Eksperimen klassik beliau telah menolong memperkuat theori-theorinya Charles Darwin, mengenai : asal dari jenis-jenis (= the origin of species), sekesi alamiah (= the natural selection). Dan tentang "Perjuangan untuk dapat tetap hidup dengan jalan mengadakan penyesuaian-diri, siapa yang kuat akan dapat tetap hidup terus" (= the survival of the fittest in the struggle for existence).


Sekarang telah diketahui bahwa gene-gene itu memisah diri menjadi separo (= setengah) dari jumlah mereka didalam cel-cel sex (sperma dan ovum), dan dinamai haploid-haploid dan menggabung kembali didalam telur yang sudah dibuahi, untuk membentuk suatu complement yang lengkap dari gene-gene, seperti cel-cel orang tuanya (= induknya).
Oleh karena itu anak-anak didalam sesuatu keluarga menjadi tampak serupa. Tetapi dari sudut moral, intelleklual, dan emosional, kemiripan mereka itu dapat sangat dekat, atau sangat jauh. Inilah yang dimaksudkan dengan 'karma' yang dikondisikan, yang dipersyarati. Orang tua yang tinggi intelleknya, dapat menurunkan anak-anak yang bodoh, atau sebaliknya, tergantung dari, 'karma' orang tuanya, dan 'karma' anak-anaknya.


Terdapat studi yang sangat menarik terhadap anak-anak kembar, yaitu studi terhadap anak-anak kembar, yang dilahirkan dari telur-telur yang dibuahi secara terpisah, dengan studi terhadap anak-anak kembar, yang dilahirkan dari satu telur yang dibuahi, yang menghasilkan dua anak kembar. Adalah bersifat alamiah bagi anak kembar, yang dilahirkan dari telur-telur yang dibuahi secara terpisah, yang hasilnya menunjukkan kesamaan warisan (= hereditary) yang berkeadaan berbeda, sebagai saudara-saudara perempuan dan saudara-saudara laki-laki yang biasa. Tetapi itu tidak benar bagi anak kembar dua yang identik, yang dilahirkan dari satu telur yang dibuahi dan lalu menjadi dua anak kembar.


Telah diselidiki oleh team sarjana besar - yaitu : Newman, Freeman, dan Holzinger dari Universitas Chicago yang termasyhur itu -, bahwa setelah anak kembar dua dari satu telur itu tumbuh menjadi besar, mulai tampak terdapat perbedaan-perbedaan diantara mereka itu. Yang satu mungkin berat tubuhnya sedikit lebih dari yang satunya; yang satu mungkin lebih cepat pandai didalam belajar, dari pada yang satunya; yang satu bersifat mudah marah atau mudah tersinggung dari pada yang satunya. Jawaban terhadap pertanyaan mengapa ada perbedaan, memisahkan diri, tidak lagi tetap berkeadaan sama, sebagai yang sama-sama berasal dari genetica dari anak kembar yang identik, itu adalah karena itu dikondisikan, dipersyarati, oleh 'karma', - hal ini merupakan suatu faktor yang tak dapat dihindarkan.

REFERENSI.
- Baptist, Egerton C.
The Supreme Science of the Buddha, Ceylon, 1954
- Carter, C.O
Human Heredity, Pelican, 1969.
- Dahlke, Paul
Buddhist Essays, Ceylon, 1961.
- Dunn & Dolzhansky
Heredity, Race and Society, Mentor Book, 1960.

Read more »

Cloning Dari Sudut Pandang Buddhis

oleh: Andromeda

Isi artikel ini dirangkum dari pembahasan cloning berseri yang diselenggarakan di bulan April 2008 di dua tempat, yakni di Los Angeles, California, dan di Columbus, Ohio, USA. Pembicara untuk seri diskusi cloning ini mencakup Bhikkhu Jotidhammo (Sangha Theravada Indonesia) dan Andromeda (ilmuwan biologis). Artikel ini bukanlah representasi dari kesepakatan komunitas Buddhis, melainkan argumen penulis dari sudut pandang Buddhis dan ilmu sains. Artikel ini hanya boleh disebarluaskan secara gratis dan bebas tanpa perlu meminta izin dari penulis.

Secara umum, definisi cloning adalah proses memperbanyak materi biologi yang dapat mencakup DNA, sel, tissue, organ, maupun organisme, dimana materi yang diperbanyak tersebut (clone) memiliki DNA yang sama dengan induknya. Karena DNA (deoxyribonucleic acid) menyimpan informasi genetik, maka clone memiliki informasi genetik yang sama dengan induknya. Ada 3 jenis cloning:
  1. DNA cloning
  2. Therapeutic cloning
  3. Reproductive cloning
Artikel ini akan menjelaskan secara singkat ketiga jenis cloning ini, kemudian akan membahas pandangan Buddhis terhadap ketiga jenis cloning ini terutama dari segi etikanya.

1. DNA cloning

Apa itu DNA cloning?

DNA cloning juga dikenal dengan sebutan molecular cloning, recombinant DNA technology, dan gene cloning. Sesuai definisi yang diberikan di atas, maka materi biologi yang diclone dalam proses DNA cloning adalah DNA itu sendiri. Dengan demikian, boleh dikatakan DNA cloning adalah jenis cloning yang paling sederhana diantara ketiga jenis cloning. Ilmuwan menggunakan recombinant DNA technology untuk memproduksi protein (protein expression & purification) , mentransfeksi sel (transfection) untuk mempelajari fungsi protein tersebut di dalam sel, dan untuk berbagai aplikasi biologi lainnya.

DNA cloning dari segi etika Buddhis

Karena proses DNA cloning sama sekali tidak merugikan makhluk hidup, maka DNA cloning tentunya tidak bertentangan dengan etika Buddhis. DNA cloning merupakan teknik biologi yang digunakan secara luas dan bebas di laboratori-laborato ri biologi di seluruh dunia.

2. Therapeutic cloning

Apa itu therapeutic cloning?

Therapeutic cloning adalah proses cloning tissue maupun organ, dimana hasil clone tissue/organ tersebut hanya akan digunakan untuk keperluan terapi medik. Therapeutic cloning diawali dengan proses somatic cell nuclear transfer (SCNT), dimana nucleus (inti sel) dari ovum (sel telur) diganti dengan nucleus dari sel somatik yang akan diclone (induk). Sel somatik mencakup sel-sel tubuh kecuali sel reproduktif (sperma dan ovum). Dengan kata lain, SCNT terdiri dari 3 tahap, yakni 1) melenyapkan/ membuang nucleus ovum, 2) mengambil nucleus somatik, 3) menaruh nucleus somatik tersebut ke dalam ovum yang telah tak bernucleus. Jadi proses mikroskopik SCNT ini akan menghasilkan sel ovum yang nucleusnya berasal dari (telah diganti dengan) sel somatik. Sel ovum yang memiliki genetik yang sama dengan sel somatik (induk) ini kemudian akan berkembang menjadi blastocyst (tahap awal dalam pembuahan) yang mengandung stem cell, yakni sel yang mampu berkembang (differentiate) menjadi berbagai jenis sel tubuh. Stem cell inilah yang akan kemudian dibuat (induced) berkembang mejadi tissue maupun organ.

Singkatnya, bila anda ingin mendapat jantung baru karena jantung lama anda telah rusak, maka ilmuwan akan mengambil sel tubuh anda (misalnya sel kulit anda), kemudian mengambil inti sel kulit anda tersebut dan memasukannya ke dalam sel ovum (dari pendonor wanita) yang telah dilenyapkan inti selnya terdahulu. Kemudian sel tersebut dibiarkan berkembang, dan stem cell yang dihasilkan akan diambil untuk dibuat tumbuh menjadi jantung baru anda.

Apa manfaat therapeutic cloning?

Manfaatnya sangat besar! Pasien yang mengalami kegagalan jantung, ginjal, dan organ penting lainnya dapat memperoleh organ baru. Mengapa kita tidak cukup mengambil organ dari pendonor? Karena sangat sulit mencari donor yang cocok dengan kita (immunohistocompati bility). Organ yang tidak cocok akan menyebabkan immune system kita menyerang organ tersebut karena tubuh kita menganggap organ tersebut sebagai ‘asing.' 

Akibatnya organ tersebut akan mengalami kegagalan. Jadi manfaat therapeutic cloning itu jelas, yakni sebagai alternatif baru untuk terapi medik.

Therapeutic cloning dari segi etika Buddhis

Walau belum terdapat kesepakatan antara para ilmuwan biologi dan kaum terpelajar Buddhis lainnya tentang therapeutic cloning ini, akan tetapi jelas bahwa dalam Buddhisme sel-sel tubuh kita tak dianggap sebagai makhluk hidup. Yakni, tidak dikenal bahwa masing-masing sel, tissue, maupun organ di tubuh kita itu memiliki unsur batiniah (Pali: nama). Jadi sel ovum dan sperma bukanlah termasuk makhluk hidup yang memiliki kesadaran. Tetapi setelah terjadinya pembuahan (bersatunya ovum dan sperma), maka terbentuklah secara perlahan-lahan sel-sel yang akan tumbuh menjadi fetus melalui proses yang dikenal sebagai embryogenesis. Bayi yang lahir tersebut memiliki unsur batiniah (nama) dan fisik (rupa). Jadi pertanyaannya adalah, “Di tahap mana dari embryogenesis ini mulai terbentuknya kesadaran?”

Pertanyaan ini penting karena dalam pandangan Buddhis, makhluk hidup terdiri dari unsur batiniah (nama) dan fisik (rupa) (Ref: Samyutta Nikaya 12.2). Hubungan antara unsur batiniah dan fisik ini adalah sangat erat dan tak bisa dipisahkan. Tanpa telinga dan sistem syaraf pendengaran, kita tak akan mampu mendengar. Tanpa kesadaran yang cukup kuat, misalnya sewaktu lagi tertidur, kita juga tak akan mampu mendengar suara-suara halus yang mampu kita dengar sewaktu kita terjaga. Jadi hubungan antara unsur batiniah dan fisik ini sangatlah erat dan sulit dipisahkan. Mereka saling membutuhkan. Tapi kapankah terbentuknya unsur batiniah ini dalam proses embryogenesis?

Stem cell terbentuk sekitar 4-5 hari setelah pembuahan (fertilization) . Dalam tahap ini, tidak ditemukan bukti-bukti adanya kesadaran. Karena kesadaran sangat erat hubungannya dengan sistem syaraf, yakni tanpa sistem syaraf kesadaran kita tak akan berfungsi, maka patut kita teliti kapan mulai terbentuknya sistem syaraf dalam proses embryogenesis ini. Proses terbentuknya sistem syaraf dalam embryogenesis dikenal sebagai neurulation, dan prosesnya dimulai sekitar minggu ketiga setelah pembuahan (Ref: Am J Med Genet C Semin Med Genet, 135C(1): 2-8). Ini adalah saat yang paling awal embryo tersebut dapat dikatakan memiliki sistem syaraf. Saat ini sistem syarafnya masih baru saja mulai terbentuk, dan tentunya masih jauh dari selesai. Oleh karena alasan inilah, maka tahap embryogenesis di hari 4-5 post-fertilization itu masih belum dapat tergolong sebagai makhluk hidup. Dan pengambilan stem cell dari tahap embryogenesis ini seharusnya tak dianggap sebagai pembunuhan karena belum dapat tergolong sebagai makhluk hidup, yakni belum terdapat bukti telah terbentuknya kesadaran.

Dari argumen ini, maka therapeutic cloning, andaikata saja dilakukan di minggu pertama pembuahan, tak dapat disebut sebagai pembunuhan. Dengan sendirinya, praktek therapeutic cloning seharusnya tak dianggap bertentangan dengan etika Buddhis.

3. Reproductive cloning

Apa itu reproductive cloning?

Reproductive cloning adalah proses membuat organisme baru (clone) dimana DNA clone tersebut memiliki identitas yang sama dengan DNA induknya. Proses yang digunakan dalam reproductive cloning adalah sama dengan proses therapeutic cloning, akan tetapi embryo yang terbentuk tersebut dibiarkan berkembang di dalam rahim (surrogate mother).

Apa manfaat reproductive cloning?

Berbagai manfaat reproductive cloning antara lain, teraihnya ras unggul di dalam industri peternakan yang akan menghasilkan hewan-hewan dan produk hewan yang unggul, membangkitkan kembali species yang telah punah, dst.

Reproductive cloning dari segi filsafat Buddhis

Buddhisme berpendapat bahwa munculnya/terbentuk nya makhluk hidup bukanlah berasal dari hasil ciptaan, akan tetapi berasal dari kegelapan batin (Ref: Samyutta Nikaya 12.2). Karena kegelapan batin inilah, makhluk bertumimba lahir. Dengan lenyapnya kegelapan batin ini, maka lenyap juga tumimba lahir ini. Di sini tak dikenal adanya ‘ego' (roh, inti, keabadian mutlak), dan makhluk hidup terus bertumimba lahir dikarenakan kegelapan batin ini. Ajaran ini dikenal juga sebagai hukum sebab akibat (Pali: paticcasamupada) , yakni terbentuknya segala sesuatu adalah karena adanya penyebab. Dengan berakhirnya penyebab tersebut, maka berakhir pula akibatnya.

Oleh karena itu, konsep reproductive cloning tidak dapat dikatakan bertentangan dengan ajaran Buddha. Cloning sebenarnya bukanlah proses ilmiah yang aneh dalam pandangan Buddisme karena Buddhisme selalu memandang segala sesuatu sebagai rantaian sebab akibat. Proses cloning hanya dapat berhasil setelah ilmuwan mengerti sebab akibatnya, yakni embryo dapat terbentuk dari hasil pembelahan sel ovum yang bernucleus diploid (2 set kromosom). Dengan menyediakan kondisi yang cocok untuk perkembangan embryo, maka tak heran bayi akan terbentuk. Jadi bila kondisi yang tepat ada, maka akan bersatulah unsur batiniah (nama) dan fisik (rupa) yang kemudian akan lahir menjadi seorang bayi.

Reproductive cloning dari segi etika Buddhis

Walau dalam aspek filsafat, reproductive cloning tak bertentangan dengan ajaran Buddha, akan tetapi dalam aspek pragmatic, reproductive cloning masih mengalami banyak permasalahan teknis. Banyak bukti-bukti yang menunjukan bahwa clone memiliki abnormalitas yang belum jelas penyebabnya. Ilmuwan berpendapat bahwa inti sel yang diambil dari induk tersebut mungkin tak optimal untuk dipakai dalam cloning karena semakin pendeknya telomere (ujung DNA akan menjadi semakin pendek setiap kali sel membelah diri). Banyak clone yang tak dapat hidup sepanjang usia induk mereka. Maka ilmuwan seharusnya memikul tanggung jawab yang berat ini, dan seharusnya reproductive cloning tidak dipraktekan, apalagi dalam skala besar, sampai setelah permasalahan teknis ini telah dapat ditanggani. Tetapi tentunya untuk menanggani permasalahan teknis ini diperlukan percobaan, eksperimen. Dan eksperimen-eksperimen ini tentunya memiliki kecenderungan- kecenderungan yang membentrok dengan etika Buddhis. Seandainya di masa depan proses cloning ini sudah tak mengalami permasalahan teknis, maka reproductive cloning mungkin akan dijadikan praktek masyarakat umum.

"this Dhamma is compared to a raft, for the purpose of crossing over, not for holding onto. You should let go even of Dhammas, to say nothing of non-Dhammas. " (Majjhima Nikaya 22)


Read more »

Agama Buddha, Biologi dan Exobiologi

Oleh : Buddhadasa P. Kirthisinghe

Ajaran-ajaran Sang Buddha secara populer dikenal dengan nama Buddhisme, yang merupakan salah satu dari Agama-Agama Besar Dunia. Ajaran-ajaran Buddhisme itu bersifat religious dan philosophis, serta dipandang sebagai suatu Jalan Kehidupan.


Biologi adalah ilmu pengetahuan tentang kehidupan physik di Bumi, yang membicarakan morphologi, physiologi, asal dan distribusi hewan-hewan dan tanaman-tanaman. Exobiologi secara aksaranya berarti diluar biologi. Exobiologi adalah studi tentang bentuk-bentuk kehidupan diluar Bumi.


Sebelum revolusi ilmu pengetahuan, yang dimulai pada Abad Ke-Tujuh Belas, Agama-Agama Monotheistis dan Polytheistis, percaya terhadap penciptaan yang sifatnya Illahi dan khusus, mengenai Bumi, Manusia dan semua phenomena lainnya, di dunia kita ini. Assumsi mystis ini menjadi berantakan, karena adanya kemajuan ilmu pengetahuan modern, sebagai misalnya Astronomi, Ilmu Kimia Physik, dan Theori-Evolusi-nya Charles Darwin.


Kehidupan Di Planit-Planit Itu Dapat Muncul
Atau Dapat Menghilang, Tergantung Dari
Lingkungan Sekitarnya.

Didalam ilmu pengetahuan Biologi, proses-proses kehidupan itu dipelajari, terutama dengan observasi, eksperimen dan induksi. Dengan majunya ilmu-ilmu pengetahuan Biologi, sebagai misalnya Biokimia Biophysika, Ilmu Genetika, dan sebagainva, konsep-gonsep Dunia menurut pandangan Theologi, di masa-masa awal, lalu mengalami kekacauan, dan ilmu-ilmu yang membicarakan fungsi-fungsi Dunia itu, lebih ditentukan secara definitif, oleh Hukum Sebab dan Akibat. Memanglah, bahwa Hukum Sebab dan Akibat ini, adalah menjadi salah satu dari ajaran-ajaran pokok dari Agama Buddha.


Khususnya, kepercayaan bahwa manusia itu dicipta secara khusus, sesuai dengan peta Illahi, tidak lagi mengandung arti didalam Agama Buddha. Kemajuan yang cepat dari ilmu pengetahuan telah menghalau assumsi tersebut, dan telah menyebabkan orang percaya kepada fakta, bahwa kehidupan di Bumi ini, ber-evolusi melalui waktu yang berjuta-juta tahun, dari suatu organisme ber-cel-tunggal, menuju ke bentuk-bentuk kehidupan tingkatan yang lebih komplek dan lebih tinggi. Sekarang, kebenaran evolusi tersebut diterima sebagai suatu fakta kehidupan. Tentu saja, bentuk kehidupan yang paling tinggi di Bumi ini, adalah manusia


- Homo Sapiens.
Di Bumi kita ini, hanya ada satu bentuk dasar, dari kehidupan - dari virus yang sederhana sampai dengan ikan paus yang paling besar, dari pohon kayu merah hingga manusia, itu wujudnya mempunyai zat dasar yang terdiri dari protein-protein dan nucleic acid. Semua bentuk dari kehidupan, itu mempergunakan vitamin-vitamin, mengalami jenis perubahan-perubahan chemis, yang sama, dan mempergunakan cara-cara pembebasan dan penggunaan enersi, yang sama. Namun pada mereka itu, terdapat variasi hingga sampai ke hal yang sekecil-kecilnya.


Dipercayai bahwa kehidupan di Bumi ini, mula pertama ada di laut, dan wujud kehidupan tersebut terbentuk dari, dan bersesuaian dengan, elemen-elemen chemis yang sama, yang sejak dahulu, maupun sampai sekarang, umum ada di laut. Oleh karena itu, tidak ada ramu-ramuan yang mysterious, atau unsur-unsur magis, yang merupakan hasil jadi dari pergabungan unsur-unsur, atas dasar tangan-tangan dingin yang mahir menciptakan sesuatu, atau atas dasar karya dari Dewa.


Dr. Herbert Wendt menyatakan pendapatnya sebagai berikut : "Samudera itu adalah merupakan Ibu dari kehidupan. Didalam lumpur yang primer dari Samuderalah hewan-hewan yang pertama ada, itu mula-mula hidup. Sembilan puluh persen dari tumbuh-tumbuhan hidup di laut, hingga sekarang ini; dan di air-lah semua wujud kehidupan yang kita ketahui itu semua berasal."


Dengan penemuan-penemuan modern di bidang Blokimia, para ilmuwan sangat heran melihat cara-cara alam, dan benda-benda alam itu mengalami perkembangannya, yang hampir tidak pernah menyimpang dari hukumnya. Para ilmuwan telah menemukan fakta bahwa beberapa materi alam, misalnya tanah liat, itu dapat berlaku sebagai catalyst untuk mempercepat tersusunnya molekul-molekul organic yang komplek, dari wujud-wujud yang sederhana. Mereka juga melihat bagaimana motekul-molekul yang rumit, itu secara alamiah mengambil bentuk-bentuk, yang mereka butuhkan untuk proses-proses kehidupan.


Suatu molekul protein, misalnya, adalah merupakan suatu kata rantai yang panjang, yang terdiri dari ribuan sub-unit sub-unit, yang dinamai amino acid. Agar dapat aktif secara biologis, mata rantai tersebut harus mengalami perkembangannya dalam sesuatu cara khusus menurut pola tertentu, dan tidak menurut pola yang lainnya.
Para ilmuwan telah menyadari, atau melihat peristiwa beberapa kali, bahwa Bumi yang primitif ini, lebih merupakan suatu type planit baru, yang sifatnya umum, yang kaya dengan kimia-kimia organis, yang sederhana. Kimia-kimia organis itu mencakup yang dinamai amino acid. Keajaiban kehidupan organis yang terdapat pada wujud-wujud di Bumi ini, adalah terletak pada acara pembentukannya, yang dari kimia-kimia yang sederhana, yang lalu menjadi molekul-molekul yang harus memiliki komposisi-komposisi dan bentuk-bentuk yang specifik, untuk dapat melakukan tugas-tugas mereka.


Para ilmuwan berkata bahwa, di alam ini, atau didalam laboratori, suatu rangkaian amino acid itu telah mempunyai kecenderungan alamiah untuk mengalami bentuk perwujudan tertentu, yang kita lihat ada di alam ini. Hal itu yang menjadi sebabnya, karena ada kekuatan-kekuatan elektris residual, yang menyebabkan mata-rantai mata-rantai itu menyusun bentuk-bentuk khusus, dan tidak bekerja secara membabi buta. Diterangkan oleh para ilmuwan bahwa nampak dengan jelas pada amino acid itulah letaknya beberapa kecenderungan, dan tidak pada yang lainnya, yang menyebabkan terbentuknya mata-rantai mata-rantai tersebut. Peristiwa atau proses yang demikian inilah, yang tampaknya paling banyak terjadi, didalam sistem-sistem kehidupan.


Para ilmuwan seluruh dunia yang percaya bahwa, apabila diberikan satu mangkuk amino acid, seperti yang terdapat pada masa awal dari adanya kehidupan di laut, maka akan muncul kehidupan awal; dan tak dapat tidak pasti demikian adanya. Dr. Barghoon dari Universitas Harvard percaya bahwa kehidupan organis itu telah ada sejak sejarah awalnya dari bumi kita ini. Beliau telah menemukan fossil yang membuktikan bahwa pada batu karang yang tertua umurnya, telah dihuni bacteria dan algae; batu karang tertua itu yang telah diketahui adalah yang terdapat di batu karang pohon fig di Afrika Selatan, yang umurnya 3.1. bilyun tahun.


Bacteria dan algae itu telah mewakili wujud-wujud kehidupan yang agak maju. Wujud-wujud kehidupan tersebut agak maju setingkat dari sistem kehidupan pertama, dan kalau pada tanaman yang ada di dunia modern sekarang ini, adalah tanaman yang kemajuannya jauh diatas wujud-wujud kehidupan ber-cel satu. Periode waktu tersebut haruslah telah melampaui suatu periode masa evolusi yang agak panjang, selama periode mana bacteria yang ada di zaman awal, telah muncul. Sejak Bumi berkeadaan padat, yang waktunya hanya 4.5 bilyun tahun yang lampau, hanya tinggal kurang dari satu bilyun tahun untuk timbulnya wujud-wujud kehidupan yang demikian itu.


Para ilmuwan sekarang ini menyatakan pendapatnya bahwa apabila ada temperatur yang layak air, carbon dan nitrogen didalam beberapa bentuk, seperti yang terdapat pada waktu Bumi masih berkeadaan primitif, maka tidak boleh tidak, tentu akan ada kehidupan.


Apabila catalyst-catalyst yang tepat bergabung bersama-sama, haruslah telah dapat muncul kehidupan, selama waktu satu tahun saja. Adalah tidak ada pembenaran, atau argumentasi yang cukup, yang dapat membenarkan pendapat beberapa sarjana yang mengatakan bahwa dibutuhkan waktu 100 juta tahun untuk munculnya kehidupan.


Dengan ber-evolusinya makhluk chordata, dengan tulang-tulang dan sistem syaraf yang effisien, makhluk chordata berkembang, dari ikan, yang masih merupakan penghuni laut, lalu meningkat menjadi amphibia dan reptil, yang telah dapat mengadakan penyesualan-diri untuk dapat hidup di darat, agar dapat mencari tanaman. Dari tingkatan reptil, burung, dan binatang menyusui (= mamal), hewan-hewan tersebut ber-evolusi hingga menjadi primat. Dari primat-primat itu, ber-evolusi-lah, dan muncullah, hewan yang sangat dominant terhadap alam, makhluk Homo Sapiens, yang tubuhnya lentur, mudah digerak-gerakkan, dan memiliki otak yang paling besar, - yaitu : Manusia.


Haruslah ditunjukkan disini bahwa proses kehidupan yang spontan itu. kemunculannya tidak dibatasi hanya pada Bumi kita ini saja, tetapi juga tidaklah kita ragukan, juga ada pada sesuatu planit, di seluruh alam semesta, yang memiliki kehidupan seperti yang telah diterangkan dimuka.

Read more »

Agama Buddha dan Revolusi Ilmu Pengetahuan

Oleh : K. N. Jayatilleke


Agama Buddha dan Revolusi Ilmu Pengetahuan adalah merupakan fakta historis bahwa revolusi ilmu pengetahuan yang terjadi pada Abad Ke-Tujuh Belas di Dunia Barat itu sebagian besar bertanggung jawab atas goncangnya konsepsi Agama, di masa awal, mengenai alam semesta. Tidak hanya bahwa ilmu pengetahuan itu bertentangan dengan dogma yang khusus dari Agama yang ada di Dunia Barat, tetapi tampaknya juga telah membahayakan dasar-dasar maupun konsep-konsep fundamental, yang bersifat implicit, didalam pandangan Agama mengenai benda-benda.
Cosmology baru dari Copernicus, Galileo dan para generasi penerusnya, telah mengubah gambaran geocentris tentang alam semesta, walaupun itu dinyatakan sebagai "bertentangan dengan Kitab Suci". Biology baru (Teori Evolusi) telah menggoncangkan doktrin-doktrin mengenai penciptaan khusus dan mengenai kejatuhan manusia. Dan psychology baru tampaknya menunjukkan bahwa jiwa manusia, itu seperti badan jasmaninya, bekerja atas dasar pola-pola hukum sebab dan akibatnya, dan seberapa pun menyelamnya di kedalaman, adalah tidak mungkin untuk menemukan didalamnya, roh yang tidak mengalami perubahan, yang menguasai semua aktivitas-aktivitasnya.
Tetapi lebih serious lagi adalah akibat dari pandangan ilmu pengetahuan terhadap sikap religious, yang umum, yang menyangkut suatu kepercayaan terhadap Tuhan yang bersifat pribadi (= personal God), terhadap Tujuan dan terhadap objektivitas dari nilai-nilai moral. Ilmu pengetahuan telah membuat penemuan-penemuan dan telah memperoleh kemajuan yang menyenangkan mengenai assumsi persebaban universal, tanpa perlu keterangan teleologis atau intervensi yang bersifat Illahi. Ilmu pengetahuan membicarakan suatu alam semesta yang sifatnya amoral, yang bersifat acuh tak acuh terhadap manusia. Sama seperti diantara manusia, nilai-nilai moral, juga sama dengan nilai-nilai ekonomi, itu sifatnya subjektif, karena nilai-nilai tersebut tergantung pada kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan manusia, dan suatu humanisme ethis adalah yang paling baik, sebab dapat memberikan harapan-harapan. Bahkan ethica yang demikian itu tidak perlu bersifat universal, karena, seperti yang telah diketemukan oleh para anthropologist, masyarakat yang berbeda-beda itu tampaknya mengikuti kode-kode moral yang berbeda-beda, yang sesuai untuk mereka. Oleh karena itu, relativisme ethis merupakan kenyataan ilmiah mengenai sifat dari nilai-nilai moral.
Tentu saja, terdapat beberapa orang yang masih menggantungkan dirinya pada dogma-dogma didalam menghadapi ilmu pengetahuan, atau masih mempercayai dogma-dogma didalam arti yang tidak harafiah. Tetapi posisi mereka masih tetap sama dengan yang lama, walaupun orang-orang tidak lagi bersifat optimistis (setelah melampaui Zaman Perang Dunia Ke-Satu dan Ke-Dua, dan setelah menginjak ambang seakan-akan Perang Dunia Ke-Tiga itu juga akan pecah), mengenai kemampuan ilmu pengetahuan didalam mengganti posisi lama, untuk menciptakan Dunia Baru yang berisi Perdamaian dan Kesejahteraan. Juga diterima sebagai hal yang wajar bahwa keterangan-keterangan yang sifatnya mechanistic tentang alam semesta itu tidak perlu untuk lalu harus membuang keterangan-keterangan yang bersifat teleologis. Ilmu pengetahuan juga telah melenyapkan materialisme yang kasar dari Abad Ke-Delapan Belas, dan para ilmuwan tidak lagi menerangkan alam semesta atas dasar model-model mesin, sedang beberapa ilmuwan telah menyangkal determinasi yang kaku di bidang atom. Tetapi semua ini masih jauh dari teriakan Agama.
Tempat yang bagaimana yang wajib ditempati oleh Agama Buddha didalam kontek yang demikian itu?. Apakah dogma-dogma dan sikap-sikapnya, berkeadaan lebih baik atau lebih buruk dari dogma-dogma dan sikap-sikap dari Agama-Agama lain?. Beberapa penulis dari Dunia Barat mengenai Agama tampaknya telah berassumsi bahwa demikian itu adanya, tetapi apabila orang membaca banyak naskah-naskah Buddhis, orang akan mulai merasa heran, dan bertanya mengapa revolusi ilmu pengetahuan yang telah mempengaruhi hampir semua Agama itu, tidak terjadi pada Buddhisme yang ada di masa-masa awal dari perkembangannya.
Saya katakan yang demikian itu, karena saya mendapati bahwa Buddhisme yang ada di masa-masa awal dari perkembangannya itu menggaris bawahi pentingnya pandangan ilmu pengetahuan didalam membicarakan problema-problema moralitas dan Agama. "Dogma" khususnya dikatakan mampu diverifikasi. Dan keterangannya yang bersifat umum tentang sifat manusia dan alam semesta itu berkeadaan sangat bersesuaian dengan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan, dan tidak begitu menyimpang, atau berbeda dengan keterangan-keterangan dari ilmu pengetahuan.
Didalam kita membicarakan hal yang disebutkan terakhir itu dapat kita temui misalnya bahwa konsepsi tentang Kosmos, dari Agama Buddha pada awal perkembangannya, itu secara essensinya, sama dengan konsepsi modern tentang alam semesta. Didalam teks Agama Buddha yang berbahasa Pali, yang kami warisi dan telah kami pelajari, dapat kami kemukakan keterangan secara aksaranya bahwa terdapat ratusan dan bahkan ribuan matahari-matahari, dan bulan-bulan, bumi-bumi, dan dunia-dunia yang lebih tinggi lainnya, yang membentuk sistem dunia minor; bahwa ratusan ribu sistem dunia minor, itu membentuk sistem dunia pertengahan; dan ratusan ribu sistem dunia pertengahan itu membentuk sistem dunia major. Didalam terminologi modern, itu tampaknya, yang dinamai sistem dunia minor (yang didalam Agama Buddha dinamai culanika-lokadhatu) itu adalah sebuah galaxy, yang menurut pengamatan ilmu astronomi modern, dengan mempergunakan telescope yang paling baik, terdiri dari ratusan juta bintang-bintang. Konsepsi Agama Buddha mengenai waktu, memiliki kesamaan yang sangat besar, dengan konsepsinya ilmu pengetahuan.
Tentu saja, tidak terdapat theori evolusi biologis seperti yang diuraikan oleh ilmu pengetahuan modern, pada teks-teks Agama Buddha, tetapi mengenai manusia dan masyarakat, dan juga mengenai alam-alam, yang digambarkan sebagai selalu mengalami perubahan dan selalu mengalami evolusi, yang sesuai dengan hukum sebab dan akibat, konsepsi Agama Buddha jelas sangat mirip dengan konsepsinya ilmu pengetahuan.
Kemudian didalam bidang psychologi (= ilmu-jiwa), kita dapati bahwa Buddhisme didalam awal perkembangannya, pandangannya mengenai manusia adalah menganggap manusia itu sebagai suatu unit psycho-physical yang unsur "psyche"nya tidak merupakan roh (= soul) yang tidak mengalami perubahan, tetapi merupakan suatu continuum yang bersifat dinamis yang terdiri dari bagian kesadaran jiwa dan bagian-tidak-sadarNya jiwa, didalam mana tersimpan residue ingatan-ingatan yang di-'charge' (= diisi) secara emosional, yang berisi ingatan semasa kanak-kanaknya, dan juga ingatan-ingatan mengenai pengalamannya semasa kehidupan-kehidupannya dalam kelahiran-kelahirannya, sebelum kelahiran yang sekarang ini. Jiwa yang sifatnya demikian itu, diterangkan, sebagai didorong untuk bertingkah-laku dibawah pengaruh tiga type keinginan, - yaitu : keinginan untuk memuasi keinginan-keinginan keindriaan (= Koma-tanha), keinginan untuk melestarikan-dirinya (= Bhava-tanha), dan keinginan untuk menghancurkan sesuatu (= Vibhava-tanha). Kecuali mengenai kepercayaan tentang kelahiran kembali (= reinkarnasi = tumimbal-lahir), konsepsi tentang jiwa, itu dipandang dari sudut ilmu pengetahuan modern, dinyatakan benar (= bersesuaian dengan ilmu, pengetahuan) dan orang tidak akan mengalami salah langkah, jika dalam pengamatannya melihat keadaan yang sama (parallel) antara ajaran Agama Buddha mengenai ketiga keinginan tersebut dimuka, dengan konsepsinya Freud mengenai : Eros (= Cinta-Berahi), Libido (= Dorongan untuk Hidup), dan Thanatos (= Dorongan untuk Mati, atau untuk Menghancurkan sesuatu).
Saya mengemukakan kesamaan tersebut diatas, tidak dengan bermaksud untuk mengatakan bahwa Agama Buddha itu layak mengajar sesuatu kepada ilmu pengetahuan modern, tetapi bahwa revolusi ilmu pengetahuan itu tidak mempengaruhi dan tidak menyimpangkan pandangan Agama Buddha, seperti yang terjadi terhadap tradisi-tradisi keagamaan dari Agama-Agama lain.
Sekarang, marilah kita bicarakan kembali mengenai isi ajaran Agama Buddha, sebagai theori tentang sifat dan tujuan dari manusia. Pertama-tama, perlulah diterangkan bahwa Agama Buddha itu memegang teguh pandangannya bahwa suatu penyelidikan yang jujur dan tidak memihak, terhadap Kebenaran atau Kasunyataan, itu merupakan pandangan yang benar dan baik, walaupun terhadap masalah-masalah religi dan moral, itu tidak menghalangi usaha untuk mencapai kemajuan spiritual, yang dilakukan oleh seseorang. Lebih dari satu kali, dalam beberapa kesempatan, Sang Buddha telah memberikan nasehat kepada para Pencari Kasunyataan, yang jujur, didalam kata-kata beliau sebagai berikut ini : "Apabila anda menghadapi suatu situasi yang meragukan, hendaklah anda menangguhkan keputusan anda. Janganlah anda menerima sesuatu pendapat, hanya : karena pendapat tersebut didesas-desuskan sedemikian rupa, karena pendapat tersebut merupakan kepercayaan yang tradisional sifatnya, karena sebagian besar dari orang-orang menyetujui pendapat itu, karena pendapat tersebut terdapat didalam Kitab-Kitab Suci, karena pendapat tersebut merupakan hasil dari argumentasi dan spekulasi yang bersifat metaphysis, karena pendapat tersebut merupakan fakta yang berasal dari penyelidikan yang dangkal, karena pendapat tersebut, bersesuaian dengan kecenderungan-kecenderungan seseorang, karena pendapat tersebut merupakan pendapat dari tokoh yang authoritative atau merupakan pendapat dari guru anda yang memilliki nilai yang prestise-nya tinggi.". Penyelidikan yang kritis dan verifikasi pribadi adalah pembimbing ke religi dan moralitas yang benar. "Apabila seseorang berbicara menjelekkan saya, ajaran saya, dan himpunan pendeta yang saya bentuk," demikian kata Sang Buddha, "janganlah lalu anda memiliki niat buruk terhadap dia, itu membuat hati anda menjadi goncang, atau kecewa, karena tanggapan anda itu hanya akan menyebabkan hati anda terluka." Sebaliknya, apabila seseorang berbicara menyebut-nyebut kebaikan saya, ajaran saya, dan himpunan pendeta yang saya bentuk, janganlah lalu hati anda menjadi terlalu gembira, hati anda menjadi bergejolak dan berbangga diri, karena apabila demikian tanggapan anda, maka itu hanya akan menghalangi pembentukan keputusan pendapat anda secara benar, tanpa perlu menghiraukan apakah sifat-sifat baik didalam diri kita yang terpuji itu benar-benar ada didalam diri kita." Suatu pandangan yang ilmiah itu kita pandang perlu kita miliki, tidak hanya karena itu penting untuk menemukan kehidupan yang religious dan yang bermoral sejati saja, tetapi bahkan penting untuk pengkajian-diri, secara berlanjut, yang didalam kehidupan hal yang demikian itu memang kita perlukan.
Selanjutnya, menurut pandangan Agama Buddha, lapangan phenomena religi dan moral, itu bukan lapangan mysteri, tetapi memegang teguh pandangan bahwa hukum sebab dan akibat itu sebagai yang mewarnai gejala agama dan moral. Prinsip determinasi sebab akibat, yaitu yang rumusannya berbunyi : "Jika A adalah menjadi unsur penyebab timbulnya B, maka kapan saja terjadi A, maka peristiwa B akan muncul, dan B itu tidak akan muncul, kecuali jika A terjadi"; pendapat yang demikian itu dipegang teguh oleh Sang Buddha. sebagai suatu pedoman. Selanjutnya Sang Buddha menerangkan bahwa : "Saya hanya berbicara tentang sebab dan hal-hal yang timbul dari unsur sebab itu." Jadi, semua phenomena, semua gejala, yang tercakup didalamnya pengalaman moral dan spiritual (dengan kekecualian Nirvana, yang merupakan phenomena yang tidak terkena persyaratan), diterangkan sebagai dipersyarati oleh hukum sebab dan akibat. Hukum-hukum yang demikian itu digolongkan menurut lapangan operasi, sebagai hukum-hukum physik, atau hukum-hukum jasmaniah (= utuniyama) hukum-hukum biologis (= vejaniyama), hukum-hukum psychologis, atau hukum-hukum kejiwaan (= cittaniyama), dan hukum-hukum spiritual dan moral (= dhamma-niyama).
Sekarang marilah kita bicarakan tentang tiga hukum yang mengatur kehidupan dan tujuan hidup individu. Hukum-hukum itu adalah : hukum kontinuitas, yang membuat lestarinya individualitas (= bhava), hukum retribusi, atau penjatuhan hukuman dan pemberian hadiah (= karma), dimana perbuatan-perbuatan yang baik dipandang dari sudut moral, menghasilkan akibat yang menyenangkan, sedang perbuatan-perbuatan yang jahat dipandang dari sudut moral, menghasilkan akibat yang tidak menyenangkan, bagi individu, dan akhirnya, ada : hukum timbulnya sesuatu berdasarkan persebaban tertentu (= causal genesis, atau dinamai "persebaban yang saling bergantungan") (= paticcasamuppada), yang dimaksudkan untuk menerangkan kedua hukum yang dua tersebut dimuka.
Hukum kontinuitas, yang secara populer dikenal sebagai kelahiran kembali (= tumimbal lahir = reinkarnasi) itu meyakinkan adanya daya tahan, atau kelestarian, dari bagian tidak-sadar, yang bersifat dinamis, pada (jiwa) individu, terhadap adanya kematian badan jasmani. Apabila bagian tidak-sadar (dari jiwa), atau individu, itu tidak bersesuaian keadaannya dengan alam-alam yang tinggi, yang disebabkan karena keadaan dari perkembangan spiritual dan moral, dari individu, dapatlah dikatakan secara umum bahwa terdapat daya tahan atau kelestarian didalam kehidupan di alam-roh (= petti-visaya = spirit-sphere), sebagai roh yang tidak berbadan (= discarnate spirit), dan yang kemudian dapat mengalami kelahiran lagi di dunia, sebagai manusia. Kritik-kritik terhadap Agama Buddha sering mengemukakan pendapatnya bahwa theori kelahiran kembali, dari Agama Buddha ini, bersifat dogmatic, atau diterima begitu saja oleh umatnya, tetapi suatu studi yang dilakukan secara teliti terhadap teks-teks Agama Buddha menunjukkan bahwa dalam kenyataannya tidak demikian halnya.
Agama Buddha muncul sewaktu timbul spekulasi, atau pemikiran, atau perenungan, yang mendalam, tentang problema "survival", atau "ketulusan-hidup". Terdapat juga ketika itu beberapa mahzab filsafat materialisme, yang semuanya menyangkal kebenaran pandangan terhadap "survival" atau "ketulusan-hidup", dan juga terdapat golongan filsafat sceptics, yang hanya meragukan kemungkinan adanya "survival", atau "ketulusan-hidup" itu. Bahkan eksperimen sebagai misalnya kegiatan menimbang badan orang menjelang dan sesudah orang meninggal dunia, agar dapat menemukan sesuatu bukti mengenai masalah survival, atau ketulusan-hidup. Salah satu dari theori-theori materialis, menyebutkan dan yang tidak dipercaya oleh Sang Buddha, ialah bahwa kesadaran dari jiwa, atau dari individu, itu merupakan hasil-samping, - by-product -, dari elemen-elemen, yang dicampur didalam proporsi tertentu untuk membentuk badan organis, yang sama keadaannya seperti keadaan didalam mana warna merah itu dihasilkan dengan pencampuran secara tertentu, dan dalam perbandingan yang sesuai, dari pinang, sirih, dan kapur" (yang tidak satu pun dari ketiganya yang berwarna merah). Beberapa dari theori-theori yang materialistic, yang sifatnya demikian itu, maupun yang sama dengan sejumlah theori-theori yang mengatakan bahwa orang itu hanya hidup sekali saja, dan lalu orang meninggal dunia (tidak secara berkali-kali, seperti Kasunyataan yang ditunjukkan oleh Agama Buddha), ada yang berpegang teguh pada pendapatnya bahwa roh itu tetap sadar setelah orangnya meninggal dunia, yang lainnya berpendapat bahwa orang itu setelah meninggal dunia roh-nya tidak sadar (tetapi tetap ada), namun ada lagi yang berpendapat bahwa setelah orang meninggal dunia, orangnya lalu memiliki kesadaran super; semua theori itu telah dikaji oleh Sang Buddha, dan Sang Buddha telah mengemukakan pendapat beliau (berdasarkan Kasunyataan yang telah beliau peroleh). Theori kelahiran kembali itu telah dikemukakan sebagai suatu yang benar-benar berkeadaan demikian, yang kebenarannya dapat diverifikasi, dengan jalan memperkembangkan kemampuan melihat kembali kelahiran-kelahiran kita didalam kehidupan-kehidupan sebelum kelahiran yang sekarang ini; potensi untuk dapat melihat hal yang demikian itu, dikatakan berada didalam diri tiap orang, dan ada didalam jangkauan semua orang untuk memilikinya.
Oleh karena itu, kasunyataan tentang kelahiran kembali (= reinkarnasi = tumimbal lahir) itu bukan suatu dogma untuk dipercayai begitu saja dengan kepercayaan, tetapi merupakan suatu hypothesa yang dapat diverifikasi secara ilmiah kebenarannya. Adapun tentang bukti-bukti mengenai kasunyataan reinkarnasi, sekarang ini, secara kasar terdapat dua jenis keterangan. Terdapat bukti secara spontan, yang dialami oleh banyak orang, baik yang tinggal di Dunia Timur, maupun yang tinggal di Dunia Barat, yang menyatakan bahwa mereka itu memiliki ingatan-ingatan (yang jelas) akan kehidupannya di masa-masa kehidupan sebelum yang sekarang ini, yang beberapa kasusnya, mengenai ingatannya kembali dengan jelas akan kehidupannya di masa-masa sebelum yang sekarang ini, telah dikonfirmasikan (telah diperkuat) oleh penyelidikan-penyelidikan lebih lanjut (yaitu misalnya : kasusnya Shanti Devi, yang dimuat didalam majalah mingguan India yang bernama "The Illustrated Weekly of India", terbitan 15 Desember 1935; kasusnya Nellie Horster, yang dimuat didalam majalah "Milwaukee Sentinel", terbitan 25 September 1892). Juga terdapat banyak sekali bukti-bukti tentang kebenaran adanya reinkarnasi itu, yang lebih dapat dipercaya lagi, yang didapat dan dikemukakan oleh para ahli ilmu penyakit jiwa (= psychiatrist) dan para ahli limu jiwa (= psychologist) yang telah menemukan bahwa didalam keadaan hypnose yang trance, orang yang dihypnose itu ingatan-ingatannya dapat dilacak ke belakang, tidak hanya sampai masa kanak-kanaknya saja, tetapi juga dapat hingga ke kehidupannya sebelum hidup di Bumi ini; beberapa kasus dari hal-hal yang demikian itu telah dapat diverifikasi (yaitu, misalnya oleh A. de Roches, didalam bukunya yang berjudul : "Les Vies Successives", penerbitan : Bibliotheque Charcomac, Paris; Ralph Shirley, didalam bukunya yang berjudul : "The Problem of Rebirth", penerbitan : Rider & Co, London; Professor Theodore Flourncy, didalam bukunya yang berjudul : "Des Inde a la planet March"; Professor Charles E. Cory, didalam bukunya yang berjudul : "A divided Self", yang dimuat didalam majalah Journal of Abnormal Psychology, Vol. XIV, 1919).
Hukum retribusi moral (= Hukum sebab-akibat di bidang moral), atau hukum karma, seperti yang diajarkan oleh Agama Buddha, juga dikiritik atas dasar bahwa itu banyak terwarnai sifat fatalisme. Kritik yang demikian itu, karena orang yang mengkirik tidak memahami ajaran Sang Buddha. Hukum sebab-akibat didalam Agama Buddha diperbedakan secara teliti oleh Sang Buddha, dalam satu hal dari Determinisme yang kaku, dan pada hal yang lainnya lagi dari Indeterminisme. Sang Buddha mengemukakan argumentasi beliau bahwa apabila segala sesuatu itu terkena determinasi, maka lalu akan tidak ada kebebasan-kehendak (= free-will) dan tidak ada lagi kehidupan moral dan spiritual, dan lalu kita ini akan menjadi hanya sebagai budak-budak dari masa lalu saja, didalam hal yang lain, apabila segala sesuatu itu terkena Indeterminisme (adhicca-samuppanna) atau terjadi secara kebetulan saja, maka kehidupan moral dan spiritual akan tidak mungkin ada, karena latihan pemeliharaan dan peningkatan nilai-nilai akan tidak menghasilkan pertumbuhan moral dan spiritual. Menurut Sang Buddha, karena dunia ini telah dikonstitusikan secara demikian rupa, maka segala sesuatu itu tidak terkena determinisme yang kaku, atau tidak sama sekali memiliki indeterminisme sehingga kehidupan religious itu mungkin dan kita inginkan.
Agar supaya dapat menerangkan secara baik dan jelas, mengenai kasunyataan tentang reinkarnasi dan hukum karma, beberapa ahli pemikir dari aliran Agama Hindu yang dinamai faham Upanisad telah menerima doktrin-doktrin tersebut, dengan mengemukakan konsep tentang atman, atau roh, yang sifatnya kekal abadi, yang tidak mengalami sesuatu perubahan (= changeless soul). Individu itu secara berlanjut tetap ada, dan tetap berkeadaan sama, karena dia memilki roh yang bersifat tetap (permanent soul), yang menjadi agent dari semua aksi, sekaligus juga menjadi pribadi yang mengalami atau menerima buah-buah dari perbuatannya. Sang Buddha dengan cepat menanggapi konsep tersebut, dengan mengatakan bahwa beliau telah melihat bahwa entitas-entitas yang bersifat metaphysis (metaphysical entities) yang demikian itu, tidak menerangkan sesuatu, dan bahwa itu tidak ada artinya dalam mengemukakan atau menyangkal terhadap entitas (= entity) yang tidak dapat diverifikasi. Oleh karena itu, Sang Buddha menolak konsep roh, sementara itu beliau tetap mempertahankan doktrin mengenai kontinuitas dari individu, yang dapat kita amati, dan menerangkan kedua hukum tersebut diatas, yaitu tentang hukum kontinuitas dan retribusi moral (hukum sebab-dan-akibat) atas dasar bahwa semua faktor phenomena yang dapat diverifikasi, itu menentukan genesisnya yang kontinu, dan pertumbuhan dari individu. Hal ini sangat rumit, jika kita berikan uraiannya hingga sekecil-kecilnya didalam artikel ini. Singkatnya bahwa itu memberi deskripsi, atau menguraikan tentang bagaimana individu itu dikondisikan oleh masa lampau psychologis-nya (kehidupan-kehidupan di masa lampau-lah, yaitu kehidupan-kehidupan sebelum yang sekarang ini, yang merupakan, atau menjadi sejumlah faktor, yang mewarnai corak umum, dari perwatakannya) dan bahwa konstitusi genetical dari tubuh seseorang, itu berasal dari kedua orang-tuanya. Individu itu tetap beraksi secara kontinu dan bereaksi terus terhadap lingkungan-sekitarnya, mengumpul-ngumpulkan pengalaman kehidupan didalam kesadaran yang selalu maju, atau mengalami evolusi (= samvattanika-vinnana), yang berlanjut terus setelah kematian badan jasmani, apabila ketiga jenis keinginan yang terdapat didalam individu itu masih berkeadaan aktif.
Pengetahuan yang sifatnya pribadi dan langsung mengenai ketiga hukum tersebut diatas itu membentuk tiga-pengetahuan (= tisso vijja), yang oleh Sang Buddha dan siswa-siswa beliau, dinyatakan bahwa telah memilikinya. Kesadaran terhadap fakta tersebut, serta ditemuinya jalan didalam mana orang dapat tidak lagi berkeadaan dikondisikan, itu dikatakan merupakan hasil telah bebasnya seseorang dari terkena kondisi, secara terus menerus, -suatu keadaan yang bersesuaian dengan pencapaian keadaan tidak lagi berkeadaan dikondisikan, serta memperoleh kemudahan didalam mencapai Nirvana. Ini merupakan penyelamatan yang diperoleh orang didalam menganut dan mempraktekkan ajaran-ajaran Agama Buddha, yang secara aksaranya, terbebasnya orang dari ikatan kehidupan yang berkeadaan terbatas dan terkena kondisi-kondisi.
Secara tepat, dapatlah diterangkan bahwa Nirvana itu di luar deskripsi, atau konsepsi; alasan dikatakan demikian, karena Nirvana, adalah keadaan yang sedemikian berbeda, secara radikal, dengan type benda-benda yang ada, yang dapat kita bayangkan atau konsepsikan, sehingga deskripsi yang penuh arti atau defisininya, tidak mungkin dapat kita berikan dalam bentuk istilah-istilah yang bersifat konsepsional. Dikatakan bahwa, untuk mengatakan sesuatu, atau seseorang, itu berada di Nirvana, adalah salah, karena eksistensi adalah suatu konsep yang kita applikasikan kepada benda-benda phenomenal dan mempunyai referensi kepada ruang dan waktu. Nirvana itu bersifat "tidak terkena hitungan waktu" (= timeless), didalam arti bahwa itu tidak dapat kita perkatakan, sebagai sesuatu yang ada di masa yang lampau, ada di masa sekarang, dan ada di masa yang akan datang"; Nirvana itu tidak bertempat didalam ruang dan waktu, dan tidak terkondisikan oleh persebaban, tidak sama dengan semua benda yang bersifat phenomenal; tetapi pernyataan bahwa Nirvana itu "tidak ada" (does not exist) adalah pernyataan yang juga salah, karena jika kita katakan bahwa Nirvana itu "tidak ada", itu berarti lenyap atau berkeadaan hancur. Sekalipun demikian, deskripsi tentang Nirvana itu memiliki sifat berkeadaan positif dan sekaligus juga memiliki sifat negatif, walaupun ungkapan yang demikian ini, bukan merupakan suatu definisi yang eksak, sebab "Nirvana" itu berkeadaan "berada diluar scope atau lingkup logika".
Secara negatif, dapatlah diterangkan bahwa Nirvana, itu adalah keadaan tidak adanya ketidak-bahagiaan. Semua eksistensi phenomenal, itu dikatakan sebagai terkena ketidak-bahagiaan; kita katakan tidak bahagia, baik penyebabnya adalah karena menghayati rasa sakit jasmaniah atau kejiwaan, dan merasa was-was atas hari-hari yang akan kita jalani, maupun yang penyebabnya pengalaman yang menyenangkan, tetapi tidak dapat kita alami secara mantap, atau tidak bersifat abadi. Pandangan yang demikian itu, merupakan pandangan kehidupan yang sifatnya realistic, bahkan walaupun kita sedang menghadapi fakta secara sangat dekat, sebagai yang dikatakan oleh Sang Buddha sebagai berikut : "Manusia itu secara keseluruhan, lebih banyak mengalami penghayatan kebahagiaan, dari pada mengalami penghayatan hal-hal yang tidak menyenangkan", dan oleh karena itu adalah tidak benar kalau dikatakan bahwa Agama Buddha itu bersifat pessimistic, karena Agama Buddha itu tidak berfikir dengan terwarnai oleh keinginan-keinginan (= wishful thinking). Secara positif, dapat diterangkan bahwa Nirvana itu adalah merupakan suatu keadaan "Kebahagiaan Yang Tertinggal" (= Supreme felicity) = (Paramam sukham).
Jalan untuk memperoleh keselamatan (didalam Agama Buddha) diutarakan sebagai ajaran Jalan Yang Ber-Ruas Delapan, didalam mana langkah pertamanya, adalah ajaran mengenai Pandangan atau Pemahaman Yang Benar, dan hidup sesuai dengan filsafat kehidupan yang benar, dan sebagai hasilnya lalu dapat memiliki Cita-Cita atau Aspirasi Yang Benar, Berbicara Yang Benar, Bertingkah-laku Yang Benar, Bermata-pencaharian Yang Benar, Berperhatian Yang Benar, yang titik kulminasinya pada pertumbuhan yang bersifat religious, dan kesadaran spiritual yang intuitif, yang diperoleh karena telah dapat menjalankan Meditasi atau Kontemplasi yang Benar. Hasil yang sepenuhnya dari kontemplasi, itu dapat dituai hanya dengan jalan meninggalkan kehidupan sosial yang aktif, untuk masuk ke kehidupan yang banyak diisi dengan kegiatan-kegiatan kontemplatif. Cara kehidupan meditative ini dicirikan dengan dicapainya tingkatan-tingkatan kesadaran mystic yang bersifat pribadi (= personal mystical consciousness) (= rupa-jhana) dan kesadaran mystic yang bersifat tidak pribadi, atau impersonal (= arupa-jhana), yang bertitik kulminasi didalam pencapaian Nirvana. Dengan telah berkembang atau bertumbuhnya jiwa (= mind) dan semangat kerohanian (= spirit)-nya, dikatakan bahwa lalu muncullah didalam individu, suatu kemampuan tertentu, yang tadinya bersifat latent, didalam diri orang tersebut, sebagai misalnya telepathy dan kewaskitaan penglihatan (= clairvoyance) dan kemampuan dapat melihat kehidupan-kehidupannya di masa yang lampau, sebelum kehidupan yang sekarang. Kemampuan-kemampuan cognitive ini, seperti telah diterangkan dibagian muka, memungkinkan individu untuk dapat merealisir keadaan yang terkondisikan, lalu diubah menjadi berkeadaan Tidak Terkondisikan. Berbicara mengenai persyaratan untuk dapat melangkah masuk ke Jalan Suci yang menuju ke Kesadaran Nirvana, dapatlah diterangkan bahwa itu terdiri dari keharuan telah dicapainya dalam taraf titik yang tertinggi perkembangan moral (= sila), perkembangan spiritual dan intuitional (= samadhi), serta perkembangan cognitive, atau intellectual-nya (= panna). Pada suatu ketika Sang Buddha ditanya, yaitu "Apakah beliau berpengharapan dapat menyelamatkan sepertiga, dari penduduk dunia, separo-nya, ataukah seluruhnya, dengan jalan menawarkan Jalan yang dapat menyelamatkan mereka itu!?!", yang atas pertanyaan tersebut, Sang Buddha menjawab bahwa beliau tidak menyatakan dapat menyelamatkan sepertiga penduduk dunia, tetapi hanya berpengharapan agar beliau dapat menjadi seorang penjaga pintu yang baik, yang pintu tersebut merupakan hanya satu-satunya pintu menuju ke istana, yang dapat memberitahukan bahwa semua orang yang ingin dapat sampai di kehidupan Surga, haruslah melalui pintu yang beliau juga itu, bahkan beliau juga mengetahui bahwa semua orang yang dimasa-masa yang lampau telah diselamatkan, yang sekarang sedang diselamatkan, dan yang pada masa-masa mendatang akan diselamatkan, semuanya masuk ke pencapaian keselamatannya, melalui pintu yang beliau jaga itu.
Demikian itulah ajaran Agama Buddha, pada masa-masa awal dari perkembangannya, yang ditawarkan sebagai suatu hypothesa ilmiah, yang sifatnya self-consistent, yang menyentuh masalah-masalah religi dan moralitas, yang setiap orang dapat memverifikasikannya. Tidak berdasarkan atas wahyu, fakta-fakta yang telah diverifikasikan oleh Sang Buddha dan ratusan siswa-siswa beliau, dan yang dapat diverifikasi oleh setiap Pencari Kasunyataan yang tekun, telah dikemukakan oleh Sang Buddha sebagai kriteria dari Kasunyataan-Kasunyataan. Test yang bersifat pragmatic dan empirical dari ilmu pengetahuan, itu bagi Sang Buddha, adalah test dari Agama yang benar. Kepercayaan yang diminta oleh Sang Buddha adalah kepercayaan yang membutuhkan pengetahuan dengan suatu filsafat kehidupan yang tertentu, dengan jalan dirinya wajib menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Agama Buddha, didalam setiap saat dalam kehidupannya. Dan ajaran-ajaran Agama Buddha itu layak untuk direalisir, dengan jalan mencoba melaksanakan ajaran-ajaran Sang Buddha, sambil meneliti sampai sejauh mana praktek dan hasil-hasil praktek yang telah dia jalankan. Sama seperti para ilmuwan telah bekerja di bidang lain-lainnya, para Buddha atau Orang-Orang Suci yang telah mencapai Kesempurnaan dalam kehidupan mereka, mereka telah menemukan Kasunyataan-Kasunyataan, yang sepanjang waktu dapat dicari pada Kitab-Kitab Suci Agama Buddha. Para Buddha telah mengkotbahkan Kasunyataan-Kasunyataan itu bagi kebaikan dunia. Setiap orang dari kita ini, harus mencari dan berusaha untuk menyelamatkan diri kita masing-masing; tidak ada orang lain yang dapat menyelamatkan diri kita, dan Orang-Orang Suci itu hanya menunjukkan Jalannya saja.
Nampaklah dengan jelas, kiranya, bahwa Agama yang sifatnya demikian itu. bersesuaian sifat-sifatnya dengan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan. Dalam hal yang demikian itu, Agama Buddha mempunyai segi-segi yang tidak berbeda dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para ilmuwan didalam mereka mencari kenyataan-kenyataan, sejauh para ilmuwan itu membatasi diri mereka pada methodologi dan lapangan-lapangan masing-masing, tanpa dengan mempergunakan suatu dogma materialisme.
Berbicara tentang tujuan, pandangan Agama Buddha mengenai alam yang sifat atau keadaannya telah dikemukakan pada berbagai Kitab Suci Agama Buddha, nampaknya manusia tidak mampu memahami tujuannya; walaupun demikian, individu-individu itu dapat saja memilih tujuan kehidupan, dan membuat agar kehidupannya bermakna sepenuhnya; adapun tujuan yang ditawarkan oleh Agama Buddha, adalah Pencapaian Nirvana. Mungkin Sang Buddha berargumentasi bahwa apabila alam itu memiliki tujuan untuk dicapai didalam Zaman Akhir dari Kehidupan Manusia, maka tidaklah salah, kalau orang mempercayai adanya penyelamatan bagi semua manusia, namun orang dapat saja lalu berpendapat bahwa kehidupan yang abadi itu tidak ada (dan kehidupan yang abadi ini menjadi tujuan yang dirindukan manusia untuk mencapainya!); tetapi menurut Sang Buddha, tidak ada keharusan untuk mempercayai pendapat yang demikian, sekalipun sebenarnya pencapaian kemajuan didalam kehidupan itu merupakan hal yang tidak dapat dielakkan; tidak ada seorang pun yang ditakdirkan wajib mencapai Kesadaran Nirvana, kecuali jika dia ingin mencapainya. Berbicara mengenai nilai-nilai moral, Agama Buddha memegang teguh nilai-nilai moral itu, karena menurut Hukum Karma, seorang peminum minuman keras, misalnya, jika dia tidak menyesali tabiatnya yang buruk itu dan bertobat (yaitu mengubah tingkah-lakunya atau cara kehidupannya yang demikian itu) dia cenderung terlahirkan lagi sebagai orang yang terlalu bodoh amat sangat (tingkat kejiwaan yang didalam ilmu jiwa dinamai "moron"), apa pun perdapat atau keinginan si peminum minuman keras tersebut, atau para anggota masyarakat dimana dia menjadi anggotanya.

Read more »

PROFIL ADMIN

Profil Admin:

dharmavirya.blogspot.com
Motto : "Selalu Semangat, Belajar, dan Menjalankan Dhamma"

 Namo Buddhaya,. Namo Dharmaya,. Namo Sanghaya,. _/|\_

Salam sahabat,...
selamat datang di blog Dharma Virya.

Sebelum panjang x lebar x tinggi :) saya "admin" ingin menampakan diri untuk sahabat dimanapun,.

Nama       : Dharma Virya
TTL          : Tangerang, 07-08-90
Pekerjaan : Design di Star Property
Kegiatan   : Kuliah, Futsal, Lion & Liong Dance, dan Ngeblog.

Walaupun blog ini milik pribadi tapi blog ini bersifat universal. 
Di blog ini memiliki artikel-artikel Dhamma berdasarkan ceramah-ceramah, majalah buddhis, situs buddhis, dan e-book. Yang saya sajikan untuk sahabat, semoga sahabat dapat memahami makna dhamma.

Dhamma  artinya  kebenaran  nyata  yang  dibabarkan  Sang  Buddha,  yang berisikan petunjuk lengkap untuk mencapai kebahagiaan. Dhamma Sang Buddha  bukan  hanya  sesuai  untuk  para  bhikkhu, samanera,  maupun mereka  yang  tinggal  di  vihara  saja.  Dhamma  Sang  Buddha  juga  sangat bermanfaat untuk para perumah tangga yang tinggal dalam masyarakat luas.

Tak hanya berisikan religi semata, tapi juga saya sajikan special untuk sahabat. Tentang berbagai macam cerita, iptek, sains, pengetahuan alam, dan kejadian-kejadian di Dunia.
================================================================

Blog ini memiliki banyak kekurangan, maka dari itu saya ingin sahabat dimanupun memberikan kritik dan saran agar blog ini menjadi lebih baik,.

Jika sahabat memiliki cerita dalam bentuk word, pdf, dll. Sahabat boleh berbagi ke saya dan akan  diposting kedalam blog ini,. sedikit berdana, membahagiakan banyak orang itu luar biasa,.

kirimkan krtik & saran, dan cerita menarik sahabat ke E-Mail : dharmavirya@gmail.com
jangan lupa biodata yg lengkap,. ok sahabat,. :)

Selamat beraktifitas kawan-ku
sabbe satta bhavantu sukhitatta "Semoga semua makhluk berbahagia"